Rencana Presiden Prabowo Subianto menyediakan layanan ambulans udara di wilayah 3T mendapat dukungan dari Guru Besar FK UI dan BRIN guna mewujudkan pemerataan kesehatan.

KOSONGSATU.ID – ​Guru Besar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengapresiasi rencana Presiden Prabowo Subianto menyediakan layanan ambulans dan dokter terbang. Program untuk kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) ini dinilai sebagai langkah visioner mewujudkan cakupan kesehatan semesta.

​”Artinya siapa pun warga kita, di mana pun berada, di tempat terpencil sekalipun, memang harus mendapat pelayanan kesehatan yang baik dan bermutu,” kata Tjandra di Jakarta, Selasa, 18 Agustus 2026.

​Ihwal rujukan program, Tjandra menyarankan pemerintah menjadikan Australia dan Afrika sebagai tolok ukur. Ia menyebutkan Royal Flying Doctor Service di Australia dan African Medical and Research Foundation di Afrika sebagai pionir layanan medis pelosok yang patut dipelajari.

​Penanganan Medis Berkelanjutan

Tjandra menekankan layanan medis udara ini memerlukan persiapan dan perencanaan terperinci. Kehadiran ambulans terbang harus diikuti dengan sistem diagnosis dan penanganan pascatindakan yang berkelanjutan, bukan sekadar evakuasi sesaat.

​”Artinya harus ada sistem, SDM, serta sarana dan prasarana kesehatan untuk mempersiapkan sebelum ambulans atau dokter terbang tiba di lokasi, dan juga melanjutkan penanganan pasien,” ujarnya.

​Selain itu, Tjandra menyoroti keluhan Presiden soal banyaknya Pusat Kesehatan Masyarakat yang belum memiliki kelengkapan 13 jenis tenaga kesehatan. Ketersediaan sumber daya manusia di tingkat pelayanan primer merupakan prioritas utama demi menjaga populasi tetap sehat.

​Kesiapan Teknologi Kedirgantaraan

​Dukungan serupa datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mematangkan ekosistem pesawat N219 beserta varian amfibinya, N219A. Pesawat ini diproyeksikan membantu evakuasi medis masyarakat di wilayah kepulauan dan terisolasi.

​Kepala BRIN, Arif Satria, menyebut pengembangan N219 merupakan upaya menyiapkan teknologi kedirgantaraan nasional. Pesawat hasil kerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia ini memiliki teknologi lepas landas dan mendarat jarak pendek agar bisa beroperasi di landasan terbatas.

​”Menjawab visi ambulans terbang dan logistik medis masa depan, BRIN bersandar pada keunggulan teknologi kedirgantaraan nasional. Kami mematangkan ekosistem pesawat N219 dan varian amfibinya,” kata Arif.

​Untuk mendukung misi strategis, BRIN turut mengembangkan pesawat nirawak berdaya jelajah tinggi. “Platform nirawak ini memberikan sistem yang mandiri dan andal untuk berbagai misi kritis, dari pemantauan taktis hingga proyeksi logistik darurat pada masa depan,” ujarnya.

​Akses Kesehatan Wilayah 3T

​Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan tekadnya menciptakan layanan ambulans udara dan tim dokter terbang guna mengatasi sulitnya akses medis kawasan 3T. Hal ini disampaikannya dalam Rapat Paripurna di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.

​Terobosan tersebut lahir dari tingginya angka kematian ibu melahirkan akibat buruknya infrastruktur di sejumlah daerah. Ibu hamil kerap menempuh perjalanan darat yang rusak hingga sembilan jam sebelum mencapai fasilitas medis terdekat.

​”Untuk itu, kita akan membuat ambulans udara dengan helikopter atau pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan rumput atau pasir, supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa dievakuasi kalau dia sakit,” kata Prabowo.***