Kita sering tidak sadar bahwa cara dunia memandang Timur — termasuk Indonesia — bukanlah cermin dari siapa kita sebenarnya, tapi bayangan dari cara Barat ingin melihat kita.

KOSONGSATU.ID—Sejak zaman kolonial hingga era digital, “Timur” selalu menjadi panggung tempat Barat memainkan peran utamanya sebagai penyelamat, penuntun, sekaligus hakim peradaban.

Edward Said, pemikir, kritikus sastra, dan intelektual Palestina-Amerika, menyebutnya Orientalisme. Ialah sebuah cara berpikir yang menempatkan Timur sebagai “yang lain”: eksotis tapi terbelakang, spiritual tapi irasional, indah tapi liar.

Dan yang paling halus dari semua ini: kita diajarkan untuk mempercayai pandangan itu.

Dari Kolonialisme ke Netflix

Orientalisme dulu hidup dalam laporan perjalanan dan lukisan eksotik para penjelajah Eropa. Kini, ia hidup dalam film, berita, dan algoritma. Kita lihatnya di film perang yang menggambarkan dunia Islam sebagai medan kekerasan.

Kita dengarnya dalam berita yang menyebut “Asia” hanya ketika ada bencana, korupsi, atau kemiskinan. Dan kita rasakan dalam sistem pendidikan yang mengajarkan bahwa sejarah dunia dimulai di Yunani dan berakhir di Eropa.

Dunia Timur jarang digambarkan sebagai pusat pengetahuan, penemuan, atau filsafat — padahal di sinilah kompas peradaban pernah lahir. Sains, logika, matematika, dan etika sudah berkembang di Baghdad, Bukhara, Taxila, dan Jawa jauh sebelum Renaisans Eropa menyebut dirinya “tercerahkan”.

Wajah Baru Penjajahan: Wacana

Said mengingatkan bahwa penjajahan tak selalu butuh kapal dan senjata. Ia bisa berlangsung lewat bahasa dan citra.

Ketika media Barat memberitakan Timur Tengah hanya dalam bingkai kekerasan, ketika ilmuwan sosial menulis “negara dunia ketiga” seolah-olah tak punya logika modern — di situlah orientalisme masih bekerja.

Ia membuat Timur tampak “kurang”, sehingga selalu perlu ditolong, dikembangkan, diselamatkan — tentu dengan cara Barat. Dan tanpa sadar, kita menyerap cara pandang itu ke dalam pikiran kita sendiri.