Kepala Pusat Makroekonomi INDEF, M. Rizal Taufikurahman, memberikan pembacaan yang lebih waspada. Ia menyebut defisit neraca dagang Juni memberikan sentimen negatif terhadap rupiah dan berpotensi melemahkan kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026. Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, menambahkan bahwa defisit berarti kebutuhan pelaku usaha akan valuta asing untuk membayar impor meningkat, sementara pasokan devisa dari ekspor justru berkurang — kombinasi yang lazimnya menekan nilai tukar dan menghambat pertumbuhan dalam jangka pendek.

Titik pertentangannya jelas: pemerintah membingkai defisit sebagai anomali sementara yang dipicu faktor eksternal, sedangkan ekonom membingkainya sebagai sinyal kerentanan struktural yang bisa merembet ke rupiah dan pertumbuhan. Kedua klaim ini sama-sama bertumpu pada data BPS yang sama, sehingga yang membedakan bukan faktanya, melainkan asumsi soal berapa lama tekanan harga energi global ini akan bertahan.

Konteksnya: Ini Bukan Kali Pertama

Menariknya, Indonesia sudah pernah mengalami pola serupa. Sepanjang 2012 hingga 2014, neraca dagang RI tiga tahun berturut-turut mencatatkan defisit, dengan puncaknya pada 2013 sebesar US$4,06 miliar, jauh lebih dalam dibanding defisit kumulatif 2014 yang “hanya” US$1,89 miliar. Penyebabnya saat itu adalah kombinasi pelemahan harga komoditas global dan perlambatan ekonomi dunia, bukan semata migas. Neraca dagang baru kembali berbalik ke surplus pada 2015, ditopang penurunan nilai impor hampir 20 persen — bukan karena ekspor membaik, melainkan karena permintaan domestik yang ikut melemah.

Preseden ini menjadi pengingat bahwa “defisit sementara” dalam narasi resmi tidak selalu terbukti sesingkat yang dijanjikan. Pertanyaan yang belum terjawab dari klaim optimisme Airlangga adalah: seberapa jauh pemerintah menyiapkan skenario jika harga minyak dunia tidak kunjung mereda dalam dua sampai tiga kuartal ke depan, mengingat konflik di Timur Tengah yang jadi pemicu utama belum menunjukkan tanda-tanda selesai.

Yang Perlu Diklarifikasi Lebih Lanjut

Ada tiga celah data yang masih perlu ditelusuri sebelum kesimpulan definitif bisa diambil. Pertama, rincian volume versus harga pada impor migas Juni belum sepenuhnya dipublikasikan BPS secara terpisah, sehingga belum jelas berapa persen kenaikan nilai impor migas yang disebabkan kenaikan harga dibanding kenaikan volume konsumsi domestik.