Kota dan Kesehatan Mental

Refleksi Yayat mengajak kita membaca banjir sebagai cermin tata kota. Infrastruktur yang rapuh melahirkan genangan; informasi yang timpang melahirkan kepanikan. Di antara keduanya, kesehatan mental warga kerap tercecer. Tragedi di Grogol menjadi pengingat bahwa kebijakan pengendalian banjir perlu memeluk dimensi psikologis—dari komunikasi risiko, manajemen lalu lintas real time, hingga layanan darurat yang mudah diakses.

Jakarta, pada akhirnya, bukan hanya dituntut mengeringkan air, tetapi juga menenangkan pikiran warganya. Sebab kota yang tangguh bukan semata yang cepat surut, melainkan yang mampu menjaga warganya tetap utuh—secara fisik dan batin—ketika hujan kembali datang.***