Kedekatan ini pun menjalar hingga ke urusan domestik. Ibunda Soekarno, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, bersahabat karib dengan Nyai Nasikhah, istri Kiai Abdul Mu’thi. Melalui jalinan emosional yang kuat inilah, Kusno (Soekarno) kecil akhirnya mulai mereguk ajaran Islam sejak dini.

Langgar Panggung: Kawah Candradimuka Si Kecil Kusno
Di sebuah langgar panggung kayu yang dibangun oleh Kiai Syuhada, Soekarno kecil mulai mengeja aksara Al-Quran dan mempelajari fasolatan. Raden Mas Kuswartono dari Situs Persada Soekarno Kediri menegaskan bahwa tempat mengaji Bung Karno tersebut berada di kawasan Pondok Kedungturi (sekarang Pondok Majmaal Bahrain Shiddiqiyyah).
Bukti sejarah ini diperkuat oleh data formal:
- Buku Induk Mahasiswa THS Bandung: Mencatat bahwa Soekarno memulai sekolah dasarnya di Ploso, Jombang.
- Tradisi Lisan: Cerita turun-temurun keluarga besar pesantren mengenai keberadaan langgar panggung tempat Kusno mengaji.
Napas Tasawuf di Podium Revolusi
Masa-masa emas pertumbuhan batin Soekarno terjadi di tengah atmosfer pesantren yang kental. Hubungan harmonis antara Soekeni dan Kiai Syuhada membuktikan bahwa karakter inklusif Soekarno berakar dari keterbukaan sang ayah.
Ploso bukan sekadar tempat tinggal sementara bagi keluarga Soekeni, melainkan kawah candradimuka di mana jiwa Soekarno pertama kali ditempa oleh nilai-nilai luhur tasawuf. Warisan dari Langgar Kedungturi inilah yang di kemudian hari muncul kembali dalam retorika besar sang Proklamator tentang “Ketuhanan yang Berkebudayaan.”***
Daftar Pustaka
- Adams, Cindy. (1965). Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta: Gunung Agung. (1965).
- Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I: Surat-surat Islam dari Endeh. Jakarta: Panitia Penerbit DBR.
- Wawancara Raden Mas Kuswartono, Pengelola Situs Persada Soekarno Kediri, 22 Februari 2026.
- Catatan Sejarah Arif Yulianto, Pemerhati Sejarah Kabupaten Jombang.
- Buku Induk Mahasiswa Technische Hogeschool (THS) Bandung, Koleksi Arsip Nasional.



Tinggalkan Balasan