Amerika Serikat bersiap menyudahi konflik. Donald Trump pastikan tarik pasukan dari Iran dalam dua hingga tiga pekan ke depan.
KOSONGSATU. ID – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tampaknya segera menemui titik akhir. Presiden AS Donald Trump memberikan indikasi paling kuat bahwa Washington bersiap menghentikan operasi militernya di Timur Tengah.
Langkah ini menandai fase akhir dari perang yang telah berkecamuk dan menguras sumber daya selama sebulan terakhir.
Sinyal Angkat Kaki dari Gedung Putih
Trump secara terbuka menyebut AS akan segera angkat kaki dari kawasan tersebut. Keputusan ini memunculkan persepsi bahwa AS mulai “menyerah” pada tekanan geopolitik dan guncangan pasar energi global yang makin parah akibat perang.
”Kami akan segera pergi,” ungkap Trump kepada awak media di Washington, Selasa (31/3/2026).
Presiden dari Partai Republik tersebut bahkan memberikan garis waktu penarikan pasukan yang sangat singkat. Trump menyebut pasukan AS mungkin akan ditarik mundur dalam kurun waktu dua hingga tiga minggu ke depan.
Keputusan ini menjadi pertaruhan politik besar bagi Trump, sekaligus menjadi sinyal paling tegas dari Gedung Putih untuk menyudahi konflik.
Mundur Tanpa Syarat Diplomatik
Menariknya, Washington tidak mewajibkan adanya kesepakatan diplomatik formal dengan Teheran untuk menghentikan gempuran militer. Trump memilih jalan keluar sepihak tanpa mengandalkan meja perundingan.
”Iran tidak harus membuat kesepakatan dengan saya. Tidak perlu,” kata Trump secara lugas saat merespons pertanyaan mengenai syarat perdamaian.
Namun, alih-alih berdiplomasi, Trump mematok keberhasilan militer sebagai syarat mutlak kepulangan pasukan. Ia menargetkan kelumpuhan total terhadap kapasitas Iran, terutama ambisi senjata nuklirnya.
Trump secara ekstrem menyatakan AS akan melempar Iran “ke zaman batu” agar negara itu kehilangan kapasitas mengembangkan senjata pemusnah massal dalam waktu singkat. Setelah misi ini tuntas, barulah AS benar-benar pergi.
Meski Trump bicara soal kepulangan, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memberikan peringatan keras. Hegseth menegaskan bahwa beberapa hari ke depan adalah penentu arah konflik.
“Kami memiliki makin banyak opsi, sementara mereka semakin sedikit,” tegas Hegseth, mengklaim bahwa posisi militer Iran saat ini sudah sangat terjepit.
Ancaman Balasan dan Harapan Damai
Saat AS merancang skenario keluar, Iran justru menyiapkan serangan balasan yang menyasar jantung ekonomi Amerika. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung mengeluarkan ancaman tegas. Mulai Rabu (1/4/2026), IRGC membidik 18 perusahaan raksasa AS yang beroperasi di kawasan, termasuk Google, Apple, Microsoft, Tesla, hingga Boeing.
Di tengah memanasnya saling ancam, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengonfirmasi telah menerima pesan dari utusan khusus AS, Steve Witkoff. Araqchi menyebut pesan tersebut lebih berupa pertukaran pandangan atau sekadar ancaman via pihak ketiga, bukan bagian dari negosiasi resmi.
Sementara itu, sinyal mundurnya AS memicu kelegaan di Vatikan. Paus Leo XIV mengapresiasi upaya Trump mencari jalan keluar untuk menghentikan pertumpahan darah di Timur Tengah. Saat meninggalkan kediamannya menuju Vatikan, Paus yang kini berusia 70 tahun tersebut menyatakan harapannya agar kekerasan dan pemboman segera mereda.
”Kembalilah ke meja perundingan, mari kita cari solusi untuk masalah ini,” seru Paus Leo XIV, mengingatkan pentingnya dialog perdamaian global.
Keputusan Trump untuk menarik pasukan menjadi titik balik krusial yang menentukan wajah Timur Tengah ke depan. Publik dunia menanti pembuktian dari Gedung Putih: apakah janji penghentian perang dalam tiga minggu ini akan benar-benar terealisasi, atau justru memicu babak eskalasi baru sebelum AS benar-benar angkat kaki?***






Tinggalkan Balasan