“Kami memiliki makin banyak opsi, sementara mereka semakin sedikit,” tegas Hegseth, mengklaim bahwa posisi militer Iran saat ini sudah sangat terjepit.

​Ancaman Balasan dan Harapan Damai

​Saat AS merancang skenario keluar, Iran justru menyiapkan serangan balasan yang menyasar jantung ekonomi Amerika. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung mengeluarkan ancaman tegas. Mulai Rabu (1/4/2026), IRGC membidik 18 perusahaan raksasa AS yang beroperasi di kawasan, termasuk Google, Apple, Microsoft, Tesla, hingga Boeing.

​Di tengah memanasnya saling ancam, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengonfirmasi telah menerima pesan dari utusan khusus AS, Steve Witkoff. Araqchi menyebut pesan tersebut lebih berupa pertukaran pandangan atau sekadar ancaman via pihak ketiga, bukan bagian dari negosiasi resmi.

​Sementara itu, sinyal mundurnya AS memicu kelegaan di Vatikan. Paus Leo XIV mengapresiasi upaya Trump mencari jalan keluar untuk menghentikan pertumpahan darah di Timur Tengah. Saat meninggalkan kediamannya menuju Vatikan, Paus yang kini berusia 70 tahun tersebut menyatakan harapannya agar kekerasan dan pemboman segera mereda.

​”Kembalilah ke meja perundingan, mari kita cari solusi untuk masalah ini,” seru Paus Leo XIV, mengingatkan pentingnya dialog perdamaian global.

​Keputusan Trump untuk menarik pasukan menjadi titik balik krusial yang menentukan wajah Timur Tengah ke depan. Publik dunia menanti pembuktian dari Gedung Putih: apakah janji penghentian perang dalam tiga minggu ini akan benar-benar terealisasi, atau justru memicu babak eskalasi baru sebelum AS benar-benar angkat kaki?***