Di Timur Tengah, situasinya lebih kompleks. Ketegangan yang berulang tanpa solusi politik memperlihatkan keterbatasan tekanan internasional. The Guardian menyebut kondisi ini sebagai tanda meredupnya kepemimpinan global Amerika, di mana Washington tampak semakin enggan menjadi aktor utama kecuali kepentingan langsungnya terancam.
Indonesia di Tengah Kekosongan Kuasa
Bagi Indonesia, perubahan sikap Washington ini bukan sekadar dinamika jauh di seberang lautan. Hal ini berdampak langsung pada stabilitas kawasan dan ruang diplomasi nasional. Selama ini, Indonesia diuntungkan oleh tatanan global yang stabil di mana kekuatan besar menjaga keseimbangan.
Namun, CSIS Indonesia mengingatkan bahwa dalam dunia yang semakin tanpa penopang tunggal, negara seperti Indonesia dituntut lebih aktif. “Netralitas tidak lagi otomatis melindungi,” tulis kajian lembaga tersebut. Tanpa kehadiran aktif Amerika sebagai penyeimbang, risiko eskalasi di wilayah sengketa seperti Laut China Selatan justru bisa meningkat.
Bebas Aktif yang Diuji Keras
Politik luar negeri bebas aktif yang menjadi kebanggaan Indonesia kini diuji keras. Dokumen Sekretariat ASEAN menyoroti bahwa kawasan Asia Tenggara berada di bawah tekanan geopolitik yang semakin tajam. Penarikan Amerika justru membuat tekanan bagi negara-negara ASEAN untuk memilih blok semakin kuat.
Dampaknya pun terasa hingga ke dapur rakyat. Bank Dunia dan FAO mencatat bahwa konflik global yang tak tertangani dengan baik memicu volatilitas harga pangan dan energi. Ketidakpastian geopolitik ini menjadi ancaman langsung bagi stabilitas harga di negara berkembang seperti Indonesia.
Dunia Lebih Aman atau Lebih Goyah?
Sebagian kalangan mungkin berpendapat dunia tanpa dominasi Amerika bisa lebih seimbang. Namun, sejarah memperingatkan sebaliknya. Brookings Institution menganalisis bahwa ketika satu kekuatan besar mundur tanpa mekanisme pengganti yang jelas, dunia cenderung memasuki fase kompetisi yang lebih berbahaya.
Kementerian Luar Negeri RI menegaskan bahwa prinsip bebas aktif tetap relevan. Namun, relevansi itu kini menuntut keberanian dan kapasitas nyata.




Tinggalkan Balasan