Penelusuran Asti mengonfirmasi bahwa di antara putra-putri Danoewikromo di Kalirejo, Raden Mangoendiwirjo II menjabat sebagai lurah, sementara Raden Hardjodikromo bertugas sebagai carik atau juru tulis desa.
Akan tetapi, dinamika politik dan ekonomi kolonial mengubah jalan hidup Raden Hardjodikromo. Wabah kolera dan kelaparan yang melanda Grobogan saat itu, ditambah perbedaan sikap dengan sang kakak dalam menyikapi kebijakan tanam paksa Belanda, mendorongnya untuk melepaskan jabatan carik.
Kepindahan ke Tulungagung
Menghindari situasi yang semakin memburuk, Raden Hardjodikromo membawa keluarganya hijrah ke Tulungagung. Di kota baru ini, roda nasib berputar manis setelah ia sukses merintis usaha kerajinan batik.
Kesuksesan finansial ini membuka jalan bagi putranya, Raden Soekemi Sosrodihardjo (ayah Bung Karno), untuk menempuh pendidikan di Kweekschool (sekolah guru) Probolinggo. Profesi guru inilah yang kelak mengantarkan Raden Soekemi bertugas ke Bali, mempertemukannya dengan Ni Nyoman Rai Srimben, hingga akhirnya melahirkan sang proklamator kemerdekaan.
Penemuan jejak silsilah yang terekam utuh dalam literatur lokal seperti Grobogan Untold Story ini semakin memperkaya nilai historis Kabupaten Grobogan. Daerah ini tidak hanya kokoh dengan reputasinya sebagai Bumi Ki Ageng, tetapi juga terbukti berkontribusi nyata melahirkan leluhur sang pembebas bangsa.***
Daftar Pustaka
- Asti, Badiatul Muchlisin. (2025). Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner. Grobogan: Hanum Publisher.
- Haryadi, Sugeng. (1998). Menyingkap Asal-usul Bung Karno. Jakarta: Pustaka Utama.
- Hendrowinoto, Nurinwa Ki S., dkk. (2002). Ayah Bunda Bung Karno: R. Soekeni Sosrodiharjo dan Nyoman Rai Srimben. Surabaya: Yayasan Nabil.



Tinggalkan Balasan