​Tugu Tani kerap dicap simbol komunis. Faktanya, ini legasi Soekarno yang terlupakan tentang heroisme rakyat merebut kemerdekaan.


KOSONGSATU. ID – ​Warga Jakarta tentu tidak asing dengan monumen yang berdiri gagah di persimpangan Menteng. Masyarakat terbiasa menyebutnya Tugu Tani. Padahal, nama resmi mahakarya perunggu ini adalah Patung Pahlawan.

​Sayangnya, hiruk-pikuk politik masa lalu menutupi makna sejati monumen ini. Banyak orang menatapnya dengan kacamata kecurigaan, menganggapnya representasi ideologi kiri.

Padahal, jika kita menelisik lebih dalam, Tugu Tani adalah manifestasi langsung dari visi dan legasi Presiden Soekarno yang perlahan dilupakan zaman.

​Visi Estetika Sang Proklamator

​Kisah monumen ini bermula dari langkah Soekarno menginjakkan kaki di Uni Soviet pada tahun 1959. Sang Proklamator tidak hanya berdiplomasi, matanya juga merekam keindahan tata kota dan patung-patung megah di negara tersebut.

Bung Karno—yang memang memiliki jiwa seni tinggi—kemudian menggagas sebuah monumen di Jakarta. Ia ingin membangun penanda kota yang menyuarakan semangat juang rakyat Indonesia.

​Pemerintah Uni Soviet menyambut hangat ide tersebut dan menugaskan dua pematung maestro, Matvey Manizer beserta putranya, Ossip Manizer. Saat mengunjungi Indonesia, duo seniman ini mendengar kisah menyentuh tentang seorang ibu yang membekali anaknya sebelum bertempur.

​Kisah inilah yang Bung Karno setujui untuk dipahat. Monumen ini menampilkan pria berkalung caping menenteng senapan berbayonet, bersama seorang wanita berkebaya yang menyodorkan bekal.

Uni Soviet memberikan patung ini sebagai hadiah persahabatan, dan Soekarno meresmikannya pada tahun 1963. Ini murni proyek seni kenegaraan, bukan pesanan ideologi politik tertentu.

​Korban Salah Kaprah Sejarah

​Lantas, mengapa stigma komunis begitu melekat? Jawabannya terletak pada detail sang petani yang menenteng senjata api, bukan cangkul.

​Masyarakat dan tokoh politik di era Orde Baru lantas mengaitkan visual ini dengan gagasan “Angkatan Kelima” usulan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1964—sebuah wacana mempersenjatai buruh dan tani.

Sentimen ini begitu kuat. Pada tahun 1982, mantan Panglima RPKAD Sarwo Edhie Wibowo bahkan sempat mendesak pemerintah agar memindahkan patung ini ke museum. Demonstrasi penolakan pun masih sesekali terjadi hingga beberapa tahun silam.

​Namun, logika sejarah dengan mudah mematahkan tuduhan tersebut. Patung Pahlawan selesai dirancang dan diresmikan pada 1963. Momen ini terjadi jauh sebelum isu Angkatan Kelima mencuat dan sebelum tragedi G30S/PKI meletus. Saat itu, Soekarno justru sedang mengobarkan semangat pembebasan Irian Barat.

Sang Presiden ingin menunjukkan bahwa seluruh elemen bangsa siap angkat senjata membela kedaulatan.

​Petani sebagai Tulang Punggung Gerilya

​Untuk memahami legasi Soekarno pada Tugu Tani, kita harus menyelami cara pandangnya terhadap rakyat kecil. Bagi Bung Karno, kaum Marhaen atau rakyat jelata adalah wajah asli Indonesia.

​Pakar seni patung Asikin Hasan dan maestro Dolorosa Sinaga menegaskan bahwa senapan di tangan petani melambangkan pertahanan diri. Selama masa perang gerilya, petani dan rakyat biasalah yang menjadi tulang punggung revolusi. Mereka menyembunyikan pejuang, memberikan informasi, dan tak ragu bertempur dengan senjata seadanya.

​Kehadiran sosok perempuan yang menyodorkan nasi juga menonjolkan pesan penting yang sering Soekarno sampaikan: revolusi tidak akan berjalan tanpa kaum perempuan. Merekalah penyedia logistik utama di garis belakang yang memastikan para pahlawan di garis depan tetap berdiri tegak.

​Merawat Ingatan, Menghargai Pahlawan

​Tugu Tani lebih dari sekadar perunggu yang terjebak kontroversi. Monumen ini adalah warisan pemikiran Soekarno yang mengingatkan kita bahwa kemerdekaan Indonesia bukan sekadar hasil diplomasi kaum elitis, melainkan darah dan peluh rakyat biasa.

​Jika Anda melintas atau singgah di Tugu Tani, sempatkanlah menunduk dan membaca plakat di bagian bawahnya (vootstuk). Di sana, pesan sang Proklamator tertulis abadi dalam ejaan lama:

​”Hanja Bangsa jang Menghargai Pahlawan Pahlawannja dapat Menjadi Bangsa jang Besar.”

​Sudah saatnya kita membersihkan debu-debu miskonsepsi dari legasi Soekarno ini. Mari melihat Tugu Tani secara jernih sebagai penghormatan agung bagi rakyat jelata yang tulus mencintai tanah airnya.***