Serangan udara di rumah tokoh senior di Teheran itu diduga sebagai upaya pembunuhan. Istri Kharazi tewas di lokasi kejadian.


KOSONGSATU.ID — Kamal Kharazi, mantan menteri luar negeri dan penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, terluka parah dalam serangan yang menargetkan rumahnya di Teheran, Rabu (1/4/2026).

Istrinya dilaporkan tewas dalam insiden tersebut.

Media Iran, termasuk Shargh, Etemad, dan Ham Mihan, melaporkan bahwa rumah Kharazi menjadi sasaran serangan udara. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis, menurut Al Jazeera.

Target Jelas, Motif Masih Gelap

Jurnalis Al Jazeera, Mohamed Vall, melaporkan langsung dari Teheran. Ia menyebut serangan itu tampak seperti upaya pembunuhan terencana.

“Kami melihat apa yang tampak seperti upaya pembunuhan terhadap mantan menteri luar negeri, Kamal Kharazi. Kami tidak tahu mengapa dia menjadi target. Dia terluka parah, dan istrinya tewas,” ujar Vall, Kamis (2/4/2026).

Amerika Serikat dan Israel belum mengaku bertanggung jawab atas operasi ini.

Gelombang Serangan di Berbagai Kota

Serangan terhadap rumah Kharazi bukanlah insiden tunggal. Pada hari yang sama, laporan menyebutkan adanya serangan udara di sejumlah kota Iran, termasuk Teheran, Isfahan, dan Shiraz.

Di Larestan, Iran selatan, empat orang dilaporkan tewas.

Serangan ini terjadi saat perang antara AS-Israel melawan Iran memasuki minggu kelima. Sejak serangan gabungan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari lalu, lebih dari 2.000 orang telah tewas di Iran. 

Sementara itu, 24 orang tewas di Israel dan 13 tentara AS tewas di kawasan tersebut.

Kharazi: Diplomat Senior yang Vokal

Kamal Kharazi bukanlah tokong biasa. Ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Iran dari tahun 1997 hingga 2005. Ia juga dikenal sebagai kepala Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri—lembaga penasihat kebijakan luar negeri yang berpengaruh.

Ia juga pernah menjadi penasihat Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei yang gugur pada hari pertama perang.

Hanya beberapa pekan sebelum serangan ini, Kharazi memberi pernyataan blak-blakan kepada CNN. Ia mengatakan “tidak ada ruang untuk diplomasi” dengan AS.

“Trump telah menipu orang lain dan tidak menepati janjinya. Kami mengalaminya dua kali dalam negosiasi—bahwa saat kami terlibat dalam negosiasi, mereka memukul kami,” kenang Kharazi kepada CNN bulan lalu.

Iran Ancam Balas Lebih Keras

Di tengah eskalasi ini, militer Iran berjanji akan terus bertempur. Juru bicara komando terpadu angkatan bersenjata Iran, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa Teheran akan terus melanjutkan perang Timur Tengah sampai AS dan Israel menghadapi “penyesalan dan penyerahan permanen”, demikian dilaporkan Tasnim News Agency.

Zolfaghari menilai penilaian AS dan Israel atas kemampuan militer Iran “tidak lengkap”. Ia mengancam akan melancarkan serangan yang “lebih menghancurkan, lebih luas, dan lebih destruktif” terhadap musuh-musuhnya.

Pernyataan itu muncul sebagai respons atas ancaman Presiden AS Donald Trump. Trump sebelumnya mengatakan Washington akan menghantam Iran “sangat keras” dalam beberapa minggu ke depan, meskipun ia mengklaim Iran “pada dasarnya sudah hancur”.

Pembunuhan Bertarget Meningkat

Para pejabat Iran meyakini bahwa serangan terhadap Kharazi adalah bagian dari pola pembunuhan bertarget yang lebih luas. Sejak perang dimulai, militer AS dan Israel telah membunuh ilmuwan nuklir Iran serta sejumlah tokoh senior pemerintah.

Korban sebelumnya termasuk Ali Larijani, pejabat keamanan Iran, dan Gholamreza Soleimani, komandan pasukan internal Basij.

“Iran telah memperingatkan bahwa pembunuhan lagi di negara ini berarti mereka akan membalas terhadap kepentingan Amerika, terutama perusahaan dan fasilitas teknologi dan AI di kawasan,” kata Vall.

Iran menduga perusahaan-perusahaan teknologi AS membantu pembunuhan bertarget di dalam negeri mereka.***