Harga memori melambung tinggi akibat tren AI, memaksa gawai murah berpotensi lenyap dari pasaran.
KOSONGSATU.ID – Masa depan ponsel pintar dan laptop berharga terjangkau kini berada di ujung tanduk. Krisis chip memori (RAM dan DRAM) akibat tingginya permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) memicu kenaikan ongkos produksi secara eksponensial.
Lonjakan biaya ini memaksa para produsen gawai bersiap mematikan segmen perangkat kelas menengah ke bawah dalam beberapa tahun ke depan.
Akar persoalan ini bukan sekadar kendala rantai pasok biasa, melainkan alokasi strategis kapasitas produksi dari pabrikan semikonduktor.
Samsung, SK Hynix, dan Micron kompak mengurangi porsi produksi RAM standar demi fokus memproduksi High-Bandwidth Memory (HBM) yang jauh lebih menguntungkan. Komponen ini merupakan tulang punggung pengembangan teknologi AI global.
Akibatnya, memori yang dahulu merupakan komponen murah kini berubah menjadi variabel penggerak harga termahal di dalam sebuah gadget. Harga kontrak PC DRAM dan Server DRAM bahkan melonjak tajam hingga 180 persen, terhitung sejak perayaan Tahun Baru Imlek pada bulan Maret 2026.
Firma riset Gartner, dalam laporannya pada Maret 2026, merilis proyeksi yang cukup suram bagi konsumen kelas bawah. Kategori komputer baru dengan harga di bawah USD500 atau sekitar Rp7,8 juta diprediksi akan musnah dari pasaran pada 2028.
Nasib serupa juga menanti ponsel pintar level ultra-murah, dengan harga di bawah USD50 atau sekitar Rp780 ribu.
”Ini bukan sekadar kelangkaan siklus biasa, melainkan realokasi kapasitas wafer silikon strategis yang berpotensi permanen. Kondisi ini akan memicu pergeseran seismik di pasar ponsel pintar,” tulis rilis analisis dari lembaga riset pasar International Data Corporation (IDC) pada Maret 2026.
Pabrikan Terpaksa Pangkas Spesifikasi
Kondisi terjepit ini membuat pabrikan gawai mengambil langkah defensif. Untuk mempertahankan margin keuntungan tanpa menaikkan harga jual secara brutal, banyak merek terpaksa memangkas spesifikasi pada sektor yang tidak terlalu terlihat oleh konsumen awam.
Produsen ponsel pintar kelas bawah alias entry-level menunda standar kenaikan kapasitas RAM. Banyak pabrikan kini perlahan kembali menerapkan memori 4GB untuk lini ponsel hemat mereka, guna meredam pembengkakan biaya suku cadang alias Bill of Materials (BoM).
Francis Wong, Chief Marketing Officer Realme India, meyakini kondisi harga tinggi ini tidak akan mereda dalam waktu singkat.
“Tren ini tidak bisa dihentikan dan akan terus berlanjut hingga paruh kedua tahun 2027,” kata Francis dalam wawancaranya dengan Gadgets 360 pada 8 Januari 2026 lalu.
Beban konsumen semakin berat karena standar industri yang mengharuskan perangkat berlabel “AI PC” menggunakan minimum RAM 16GB justru makin memperparah kemacetan suplai pasar dan mendongkrak harga laptop ke level tertinggi.***





0 Komentar