Soekarno berjuang di jalur politik, KH. Romly Tamim merapal doa dari bilik pesantren. Inilah kisah dwitunggal pembela kedaulatan.


KOSONGSATU. ID – Soekarno dan Romly Tamim bergerak dalam harmoni yang tak terpisahkan: Soekarno berjuang di jalur politik, KH Romly Tamim merapal doa dari bilik pesantren. Inilah kisah dwitunggal pembela kedaulatan yang menjadi bukti bahwa kemerdekaan Indonesia adalah buah dari ikhtiar lahir dan batin.

Kabupaten Jombang bukan sekadar lumbung santri bagi Nusantara. Wilayah ini merupakan poros penting bagi Soekarno dalam mencari sandaran moral selama masa pergerakan. Bung Karno amat memahami bahwa revolusi fisik melawan penjajah memerlukan benteng batin yang kukuh.

Karena itulah, ia kerap menempuh perjalanan menuju Peterongan untuk menemui KH Romly Tamim, pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso. Pertemuan demi pertemuan ini menjadi simbol persatuan utuh antara visi kebangsaan yang menyala-nyala dan ketenangan spiritual yang mendalam. Di sinilah, gagasan negara bertemu dengan ketulusan doa.

Istighosah sebagai Senjata Batin Perjuangan

KH Romly Tamim bukanlah kiai sembarangan. Beliau merupakan mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang sangat disegani sekaligus penyusun wirid Istighosah yang kita kenal hingga hari ini. Saat agresi militer mengancam kedaulatan republik yang baru seumur jagung, para pejuang sering singgah ke Darul Ulum untuk memohon rida.

KH Romly membekali mereka dengan doa, termasuk merapalkan munajat khusus bagi Soekarno agar senantiasa tegar memimpin bangsa di tengah badai krisis. Dukungan ruhani ini menyuntikkan keberanian tak kasatmata bagi laskar rakyat di garis depan. Strategi militer boleh direncanakan di meja operasi, namun kekuatan batin ditempa di atas sajadah.

Sinergi Setara Umara dan Ulama

Kedekatan Soekarno dengan ulama Jombang mematahkan anggapan bahwa kaum nasionalis berjalan terpisah dari kelompok religius. Bung Karno selalu memposisikan kiai sebagai penasihat utama dan jangkar kebangsaan.

KH Romly Tamim, melalui karisma dan jaringan santrinya yang luas, membantu memobilisasi perlawanan rakyat tanpa harus mengangkat senjata secara langsung. Sang kiai berjuang membelah langit lewat doa, sementara sang proklamator berdiplomasi dengan lantang di atas mimbar dunia. Keduanya berbagi peran dalam satu tarikan napas perjuangan yang sama.

Karomah di Tengah Desing Peluru

Sejarah lisan di kalangan pesantren juga mencatat sisi-sisi metafisika dalam perjuangan Mbah Yai Romli. Pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, beliau menggerakkan santri-santri untuk terjun ke medan tempur di bawah komando Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Konon, para santri dibekali kepalan tanah liat yang telah didoakan (diasma’). Setiap kali tanah tersebut dilemparkan, ia bereaksi layaknya bom yang meluluhlantakkan musuh. Tak hanya itu, saat beliau ditahan penjajah, sebuah keanehan muncul: beliau selalu terlihat mengimami shalat berjamaah di Pondok Rejoso setiap waktu shalat tiba, meski raga beliau secara administratif berada di balik jeruji besi. Hal ini membuat penjajah kewalahan dan akhirnya membebaskan beliau karena desakan simpati masyarakat yang luar biasa.

Jangkar Spiritual Sang Proklamator

Mengamati pola komunikasi Bung Karno dengan ulama Jombang, Rijal Mumazziq Z, sejarawan dan penulis buku Surabaya Kota Pahlawan Santri, menyoroti eratnya fondasi hubungan ini:

“Bung Karno menyadari sepenuhnya bahwa kekuatan politik dan militer saja tidak cukup untuk mengusir penjajah. Beliau membutuhkan jangkar spiritual. Sosok seperti KH Romly Tamim memberikan legitimasi batin yang luar biasa kuat, sehingga para pejuang dan rakyat di akar rumput sama sekali tidak gentar menghadapi peluru musuh.”

Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perpaduan keringat para pejuang dan air mata doa para ulama. Hubungan Soekarno dan KH Romly Tamim membuktikan bahwa nasionalisme dan nilai spiritual merupakan dua sayap yang menerbangkan Garuda ke puncak kemerdekaan.

Kisah mereka meninggalkan teladan abadi tentang pentingnya kerendahan hati seorang pemimpin negara saat bersimpuh di hadapan kedalaman ilmu seorang guru rohani.***


Daftar Pustaka

  • Mumazziq Z, Rijal. Surabaya: Kota Pahlawan Santri. Surabaya: Pustaka Syahrir.
  • Arsip Sejarah Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Jombang.
  • Pribadi, Benny. Soekarno dan Kedekatannya dengan Tokoh-Tokoh Sufi. Jakarta: Media Pressindo.