Trump menuntut ikut menentukan pemimpin baru Iran pascakematian Ali Khamenei.
KOSONGSATU.ID—Krisis politik besar menyelimuti Iran setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel.
Di tengah kekosongan kekuasaan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan ingin terlibat langsung dalam proses penentuan pemimpin baru Iran.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara telepon dengan media Axios pada 5 Maret 2026. Ia menegaskan bahwa Washington harus memiliki peran dalam menentukan siapa yang akan menggantikan Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam.
“Khamenei’s son is unacceptable to me. We want someone that will bring harmony and peace to Iran,” kata Trump dalam wawancara tersebut.
Trump secara khusus menolak kemungkinan pengangkatan Mojtaba Khamenei, putra mendiang Khamenei yang selama ini disebut sebagai kandidat terkuat suksesi kepemimpinan Iran.
Menurut Trump, ia harus dilibatkan dalam proses tersebut “seperti ketika Amerika Serikat berperan dalam perubahan kepemimpinan di Venezuela.”
Menolak Suksesi Dinasti
Mojtaba Khamenei selama ini dikenal sebagai figur berpengaruh di lingkaran elite Iran, terutama karena kedekatannya dengan Islamic Revolutionary Guard Corps. Namun Washington telah menjatuhkan sanksi terhadapnya sejak 2019.
Trump bahkan menyebut putra Khamenei sebagai “figur ringan” dan tidak dapat diterima sebagai penerus kepemimpinan Iran.
Pernyataan tersebut menandai eskalasi retorika Amerika Serikat terhadap Iran di tengah konflik militer yang masih berlangsung.
Proses Suksesi Iran Tertunda
Secara konstitusional, pemimpin tertinggi Iran dipilih oleh Assembly of Experts, sebuah dewan ulama beranggotakan 88 orang.
Namun proses suksesi saat ini tertunda akibat situasi perang dan ketidakstabilan politik di dalam negeri. Pemerintah Iran dilaporkan membentuk dewan kepemimpinan sementara untuk menjalankan pemerintahan hingga pemimpin baru ditetapkan.
Beberapa nama lain yang disebut-sebut sebagai kandidat antara lain tokoh agama dan politisi senior dari kalangan ulama Iran.
Risiko Eskalasi Geopolitik
Para analis geopolitik menilai pernyataan Trump sebagai sinyal kuat ambisi perubahan rezim di Iran. Jika Washington memaksakan keterlibatan dalam proses suksesi, langkah tersebut berpotensi memicu ketegangan lebih luas di kawasan Timur Tengah.





Tinggalkan Balasan