Dua tokoh besar beda spektrum, Soekarno dan KH As’ad Syamsul Arifin, merajut ikatan yang melampaui batas-batas politik praktis.


KOSONGSATU.ID – Persahabatan mereka menautkan visi kebangsaan dan nilai spiritual, sekaligus mewariskan keteladanan nyata tentang kesederhanaan, keteguhan prinsip, dan cinta Tanah Air.

​Sejarah mencatat bahwa kedekatan antara Proklamator RI Soekarno dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, KHR As’ad Syamsul Arifin, bermula dari pergerakan nasional. Alih-alih hanya berdiam di pesantren, Kiai As’ad aktif memperluas wawasannya. Ia bergabung dengan Sarekat Islam dan turut menjadi anggota organisasi Penyedar yang Bung Karno dirikan. Melalui wadah inilah, interaksi intensif membangun rasa saling percaya di antara keduanya.

​Bung Karno sangat menghormati posisi spiritual sang kiai. Akar penghormatan ini bahkan bisa kita tarik mundur ke masa muda Soekarno. Kiai As’ad sendiri mendokumentasikan bagaimana guru spiritualnya, Mbah Kholil Bangkalan, memberikan restu khusus kepada Soekarno muda dengan memegang dan meniup ubun-ubunnya. Mbah Kholil meramalkan bahwa pemuda yang HOS Tjokroaminoto bawa tersebut kelak akan menjadi tokoh besar.

​Warisan ‘Pesan Langit’ untuk Suksesi Bangsa

​Kepercayaan Soekarno kepada Kiai As’ad tidak luntur termakan zaman. Jauh setelah Indonesia merdeka, Bung Karno tetap menjadikan sang kiai sebagai rujukan spiritual bagi keluarganya. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, membagikan kisah bagaimana Megawati Soekarnoputri selalu memegang teguh pesan mendiang ayahnya untuk mencari bimbingan dari sang ulama.

​Dalam kunjungannya, Kiai As’ad menyampaikan sebuah ‘pesan langitan’ yang menegaskan peran Bung Karno sebagai penggali Pancasila, dan mengingatkan bahwa bangsa Indonesia harus selalu bersatu di bawah naungan ideologi tersebut.

​”Beliau berpesan pada Ibu Mega. Anakku, kalau kau sedang susah, jangan ragu untuk berziarah ke makam para wali dan Bung Karno.” — Hasto Kristiyanto.

Gaya Manusiawi: Ulama Bersahaja yang Menolak Takhta

​Meski memiliki relasi yang sangat dekat dengan pucuk pimpinan negara, Kiai As’ad menampilkan gaya manusiawi yang luar biasa bersahaja. Ia sama sekali tidak tergiur oleh kekuasaan. Bung Karno pernah menawarkan kursi Menteri Agama di era Nasakom kepadanya, namun sang kiai menolaknya secara halus. Begitu pula saat tawaran menjadi Rois Am atau Rois Akbar Nahdlatul Ulama (NU) datang kepadanya.