Pemerintah belum menekan tombol mulai untuk BUMN tekstil baru. Yang ada baru peta, hitungan, dan kehati-hatian.
KOSONGSATU.ID — Di tengah riuh restrukturisasi industri nasional, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memilih nada yang terukur. Pada Rabu, 11 Februari 2026, di Jakarta, ia menegaskan bahwa rencana pembentukan BUMN baru di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) masih berada di meja perencanaan. Skema pendanaan dan desain kelembagaan belum final.
Airlangga menyebut pemerintah sedang menyiapkan pembiayaan, termasuk untuk restrukturisasi mesin dan peningkatan kapasitas produksi. “Kita sedang mempersiapkan pendanaannya, termasuk untuk restrukturisasi mesin dan peningkatan kapasitas produksi. Detailnya masih dalam pembahasan,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi penanda: proyek ini belum operasional. Feasibility study telah tersedia, namun yang kini disusun adalah roadmap industri—sebuah peta jalan agar penguatan sektor tidak parsial. Fokus diarahkan pada segmen midstream, terutama produksi benang dan kain, mata rantai yang selama ini kerap rapuh karena ketergantungan impor bahan antara.
“Feasibility study sudah ada. Sekarang kita siapkan roadmap supaya penguatan industrinya komprehensif, terutama di sektor midstream,” kata Airlangga dalam laporan yang sama.
Dana Besar, Tantangan Lebih Besar
Sebelumnya, pemerintah mengemukakan rencana penyediaan dana sekitar US$6 miliar melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Dana ini diproyeksikan untuk modernisasi mesin, efisiensi produksi, hingga integrasi rantai pasok dari hulu ke hilir.
Angkanya besar. Namun, yang lebih krusial adalah bagaimana dana itu bekerja: apakah ia menjadi katalis kebangkitan industri atau sekadar tambalan jangka pendek. Industri tekstil Indonesia pernah menjadi primadona ekspor dan penyerap tenaga kerja masif. Kini, ia berhadapan dengan kompetisi regional, tekanan harga, dan perubahan permintaan global yang bergerak cepat.
Revitalisasi mesin bukan sekadar mengganti perangkat usang dengan yang baru. Ia menyentuh produktivitas, kualitas, hingga daya saing harga. Dalam konteks global 2026—di mana fragmentasi rantai pasok dan proteksionisme selektif masih membayangi—ketahanan industri dalam negeri menjadi taruhan.
Sektor Padat Karya di Titik Kritis
Industri TPT adalah sektor padat karya. Jutaan pekerja, terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten, menggantungkan hidup pada denyut mesin pabrik tekstil. Di sinilah kebijakan industri bersinggungan langsung dengan stabilitas sosial.




0 Komentar