Cak Nun menyingkap operasi senyap geopolitik global yang membidik Islam dan meminggirkan peran pesantren. Di tengah gempuran stigma radikal dan sekularisme, kemandirian kiai menjadi benteng terakhir penjaga martabat bangsa.
KOSONGSATU.ID–Di balik ingar-bingar wacana publik, bergulir sebuah operasi senyap yang perlahan mendiskreditkan institusi pendidikan tertua di Nusantara: pesantren.
Jauh sebelum para pengamat menyadarinya, budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun sudah lama membaca desain besar itu. Menurut dia, desain tersebut merangsek masuk lewat propaganda politik internasional, hegemoni media massa, hingga sistem pendidikan sekuler.
Bagi Cak Nun, stigma negatif terhadap Islam dan kiai bukanlah kecelakaan sejarah. Stigma itu lahir dari benturan kepentingan geopolitik global dan kapitalisme yang gentar melihat kemandirian umat.
Kini, kiai dan santri berdiri di persimpangan jalan. Mereka menghadapi gempuran narasi yang berusaha mencabut pesantren dari akar kebudayaan dan nilai ketuhanannya.
Membongkar Konstruksi “Islam Radikal” dan Perang Geopolitik
Cak Nun menolak keras narasi yang terus-menerus mengidentikkan Islam dengan ekstremisme. Menurut dia, istilah “radikal” yang kerap ditempelkan pada umat Islam berakar dari pembingkaian politik sayap kanan internasional.
Cak Nun menilai kekuatan-kekuatan global, seperti Amerika Serikat, Tiongkok, hingga Israel, merasa terancam oleh kebangkitan kesadaran umat. Alih-alih berhadapan secara militer, mereka melancarkan perang psikologis dan keagamaan.
Padahal, Islam di Indonesia justru menjadi pilar kedamaian yang mengajarkan rasa syukur. Wajahnya jauh dari karikatur bengis yang diciptakan media global.
Dalam pembacaan Cak Nun, operasi psikologis ini merambah hingga ke pusat spiritual umat Islam. Intervensi geopolitik disebutnya memprovokasi Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, untuk mengontrol Makkah dan Madinah lewat berbagai larangan kultural.
Tujuan akhirnya, kata Cak Nun, sangat destruktif: memutus ikatan cinta dan hubungan batin antara umat Islam dan Nabi Muhammad SAW.
Lebih jauh, Cak Nun meyakini ada jaringan global yang terus bergerak melemahkan akidah masyarakat di negara berkembang demi memuluskan kontrol politik dan ekonomi tatanan dunia baru.
Marginalisasi Kiai Pelosok di Tengah Hegemoni Panggung Nasional
Selain gempuran dari luar, pendiskreditan juga terjadi di dalam negeri lewat tangan elite kekuasaan dan media massa. Cak Nun mencatat sebuah anomali besar saat krisis multidimensi melanda Indonesia pada 1998.
Saat itu, kiai-kiai tradisional dari Langitan dan berbagai pelosok desa berkumpul. Mereka menggelar tirakat dan istikharah demi keselamatan rakyat kecil (mustadh’afin).
Namun, media massa nasional dan pemerintah justru meminggirkan peran mereka. Layar televisi dan halaman surat kabar sibuk menyoroti elite politik yang saling berebut panggung.
Ketidakadilan ini mendorong Cak Nun menulis “Kyai Jembatan”, esai yang membongkar stigma rezim Orde Baru terhadap pendidikan tradisional.
Alumni pesantren kerap dipandang sebelah mata oleh elite karena tidak mengantongi ijazah formal yang mentereng.
Padahal, kiai desa dan santrinya bekerja nyata. Mereka menggarap sawah dan kebun, serta membangun jembatan desa demi mewujudkan kedamaian sosial (baldah thayyibah).
Cak Nun menegaskan, pesantren membuktikan martabatnya lewat kemandirian hidup, bukan lewat selembar kertas akreditasi.
Ancaman Kapitalisme Pendidikan dan Pengikisan Jati Diri
Di era modern, ujian terberat pesantren bergeser dari tekanan politik menjadi jebakan kapitalisme pendidikan.
Cak Nun melontarkan kritik keras terhadap sekularisme negara yang mengondisikan masyarakat untuk melupakan jati diri bangsanya. Menurut dia, pendidikan modern kini semata-mata berorientasi mencetak buruh industri dan mengejar citra.
Jika pesantren memaksakan diri mengikuti standar hitungan rasionalistik Barat, pesantren berisiko kehilangan keunikan spiritualnya.
Ketika pesantren mulai “merendahkan martabat” dengan berburu proyek, bergantung pada proposal dana politik, dan terjebak kompetisi materi, saat itulah pesantren mendiskreditkan dirinya sendiri dari dalam.
Pendidikan yang seharusnya menanamkan budi pekerti (apek) beralih sekadar menjejalkan kepintaran kognitif tanpa akhlak.
Jika umat Islam mudah terbelah oleh politik pecah belah (divide et impera), daya tawar pesantren akan runtuh. Pesantren pun hanya menjadi alat legitimasi kekuasaan sesaat.
Jalan Sunyi Perlawanan: Kedaulatan Akar Rumput dan Maiyah
Menolak menyerah pada keadaan, Cak Nun merancang strategi perlawanan kultural yang bertumpu pada kemandirian intelektual dan pemberdayaan akar rumput.
Ia tidak mengandalkan panggung resmi. Cak Nun membangun komunikasi langsung dengan rakyat lewat majelis Padhang Mbulan, yang kemudian melahirkan jejaring Maiyah.
Di ruang-ruang pendidikan nonformal ini, kiai, santri, dan masyarakat dari berbagai lapisan duduk setara (sinau bareng). Mereka merumuskan solusi atas persoalan hidup tanpa disetir kepentingan elite.
Pendekatan ini berpadu dengan dakwah kultural lewat Gamelan Kiai Kanjeng. Meneladani kecerdasan Walisongo, Cak Nun membalut selawat dan wirid dengan irama Nusantara, sekaligus meruntuhkan stigma bahwa keilmuan kiai itu kaku dan kuno.
Lewat metode tadabur Al-Qur’an, teks-teks suci dibumikan menjadi metodologi untuk membedah realitas sosial-ekonomi masa kini.
Ketika suara kiai tidak didengar negara, konsolidasi spiritual lewat istigasah dan doa bersama menjadi senjata untuk menempa mental baja masyarakat.
Pesantren menyimpan peta jalan bagi masa depan pendidikan dunia, asalkan berani menolak tunduk pada dikte industri dan rayuan pragmatisme politik.
Menjaga khitah tidak berarti antikemajuan. Menjaga khitah berarti merawat kemerdekaan berpikir dan kedaulatan pangan, agar umat tidak mudah diombang-ambingkan narasi asing.
Jika kiai dan santri mampu mempertahankan wibawa yang lahir murni dari pengabdian nyata, skenario global pemburukan Islam niscaya runtuh dengan sendirinya di hadapan martabat kebudayaan Nusantara yang kokoh.***
Daftar Rujukan:
- Nadjib, Emha Ainun. (1987–1988). Secangkir Kopi Jon Pakir. Kumpulan esai tentang pembelaan atas kontribusi santri, termasuk esai “Kyai Jembatan”.
- Nadjib, Emha Ainun. (1998; edisi baru 2016). Saat-Saat Terakhir Bersama Soeharto: 2,5 Jam di Istana. Yogyakarta: Bentang Pustaka. Memuat dokumentasi esai “Bergerilya di Sampang” dan Pengajian Padhang Mbulan, 11 Mei 1998.
- Nadjib, Emha Ainun. (2021). Mbah Nun Bertutur. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
- Nadjib, Emha Ainun. (2012). Arsip ceramah di Masjid Raya Klaten. Berisi analisis strategi geopolitik dan pemutusan hubungan batin umat dengan Rasulullah SAW.
- Masyarakat Maiyah. (Maret 2021). “Cak Nun Marah ketika Islam Disebut Radikal”. Dokumentasi video YouTube.
- Dokumentasi Kajian Gerakan Internasional Cak Nun. Berisi analisis jaringan kekuasaan global, Freemasonry, dan Illuminati.




Tinggalkan Balasan