Bagi masyarakat Jawa, gunung menyimpang berlapis makna. Ia bukan sekadar gundukan tanah menjulang, tetapi episentrum spiritual tempat manusia menjalin jembatan dengan Sang Pencipta. Sayang, keheningan sakral itu kini bising oleh riuh media sosial.
KOSONGSATU.ID – Gunung dan manusia Jawa menjalin pertalian yang melampaui batas-batas fisik. Saat kita menatap puncak yang menjulang menembus awan, kita tidak sedang melihat bongkahan batu purba, melainkan tengah membaca sebuah teks kebudayaan yang panjang.
Dr. Ari Prasetiyo, M.Si, budayawan dari Universitas Indonesia, pernah menebalkan simpulan ini: gunung memegang peran esensial dalam budaya Jawa karena ia menjadi medium penghubung antara dunia manusia dan dimensi Ilahiah.
Sejak zaman prasejarah hingga era kerajaan-kerajaan besar Nusantara, masyarakat menempatkan tempat-tempat tinggi sebagai zona suci. Namun, seiring berjalannya waktu, cara manusia modern memandang bentang alam agung ini mulai bergeser. Kita kini berdiri di persimpangan antara merawat warisan transendental atau sekadar memuaskan hasrat visual.
Simbolisme Kosmis dalam Bayang-Bayang Wayang
Pemahaman masyarakat Jawa tentang gunung mengejawantah secara paripurna dalam pertunjukan wayang kulit. Sebelum dalang merajut kisah, ia menancapkan gunungan atau kayon tepat di tengah kelir.
Gunungan ini mencabut kita dari dunia fana, menandakan bahwa sebuah pusaran kehidupan baru saja bermula. Saat lakon usai, dalang kembali menancapkan gunungan tersebut di tengah kelir sebagai penanda akhir dari segala keriuhan.
Gunungan merepresentasikan Maha Meru, pusat alam semesta. Melalui siluetnya yang mengerucut ke atas, masyarakat Jawa belajar tentang konsep sangkan paraning dumadi—asal dan tujuan akhir kehidupan. Pada selembar kulit kerbau yang dipahat itu, tergambar ekosistem yang utuh: pohon kehidupan, binatang buas, hingga batas antara alam manusia dan kahyangan.
Segala ritus kehidupan bermula dan berakhir pada kesadaran kosmis ini. Gunung menyimbolkan tatanan yang rapi, mengingatkan manusia bahwa hidup memiliki awal yang sakral dan akhir yang harus dipertanggungjawabkan.
Menjaga Harmoni Semesta dari Keraton hingga Puncak
Lebih dari sekadar simbol filosofis, gunung berjalin kelindan dengan tatanan sosial dan kekuasaan, terutama dalam kosmologi Keraton Mataram Islam. Mari kita melihat sumbu imajiner yang membentang dari Gunung Merapi di utara, melintasi Keraton Yogyakarta, hingga bermuara di Laut Selatan.
Merapi menyimbolkan elemen bapak (api/maskulin), sementara Laut Selatan merepresentasikan ibu (air/feminin). Keraton berdiri tepat di tengah sebagai titik keseimbangan.
Penduduk lereng gunung, seperti di kawasan Merapi, merawat tatanan ini melalui serangkaian ritus ekologis. Mereka meyakini keberadaan entitas tak kasatmata yang menjaga alam, seperti Ki Sapu Jagad atau Kyai Petruk.
Penghormatan terhadap “penunggu” ini—yang sering diwujudkan lewat upacara selamatan atau Labuhan—sejatinya merupakan bahasa ekologi masyarakat tradisional.
Mitos sengaja dipelihara agar manusia tidak membabat hutan serampangan atau merusak mata air. Ketakutan akan kualat melahirkan laku konservasi alam yang jauh lebih efektif ketimbang regulasi modern yang sering kali tumpul.
Laku Sunyi dan Keabadian di Ketinggian
Bagi manusia Jawa, gunung juga menjadi palagan terakhir untuk menanggalkan jubah keduniawian. Menginjak masa wanasta (fase merenung di hari tua), para kesatria dan raja-raja besar memilih mendaki keheningan.
Gunung Lawu, misalnya, merawat kisah epik Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit yang memilih moksa di puncak sunyi, meninggalkan gemerlap takhta demi mencari kesejatian diri.
Tradisi laku spiritual ini terus mewaris hingga ke era kekinian. Makam-makam raja dan tokoh besar sengaja diletakkan di dataran tinggi. Kita mengenal Imogiri sebagai persemayaman Sultan Agung, Mangadeg untuk Mangkunegara I (Pangeran Sambernyawa), hingga Astana Giribangun.
Penempatan makam di atas bukit atau gunung menyuratkan penghormatan tertinggi, sekaligus keyakinan bahwa roh leluhur bersemayam di tempat yang dekat dengan Sang Pencipta. Gunung menyediakan ruang sunyi, memberi jeda dari bisingnya intrik duniawi, sekaligus memeluk manusia dalam peristirahatan abadi.
Pergeseran Makna: Dari Ruang Sakral Menjadi Panggung Visual
Sayangnya, nilai-nilai luhur yang mengakar berabad-abad itu kini menghadapi ujian berat bernama modernitas dan algoritma. Johan Rosihan, seorang pemerhati sosial, menyoroti fenomena meresahkan di mana gunung hari ini telah bersalin rupa layaknya pusat perbelanjaan. Antrean pendaki mengular, bukan untuk mencari pencerahan batin, melainkan berburu validasi di media sosial.
Puncak gunung yang dulu mendidik manusia tentang kerendahan hati, kini berubah menjadi panggung narsistik. Para pendaki berlomba mengabadikan momen, menaklukkan ketinggian hanya demi mendulang likes. Jaket dan sepatu gunung berteknologi tinggi menjadi seragam status sosial kelas menengah urban.
Alam kehilangan daya magisnya, tereduksi sekadar menjadi latar belakang foto. Ketika manusia mendaki hanya karena takut tertinggal tren healing atau exploring, tanpa kesadaran untuk menyelami makna ekologisnya, gunung mungkin tetap eksis secara fisik, namun ia telah bangkrut secara kultural.
Menundukkan Kepala pada Semesta
Gunung, pada hakikatnya, tidak pernah meminta kita untuk menaklukkannya. Ia berdiri tegak untuk mengajarkan ketawadukan. Ketika kaki berpijak di jalurnya yang terjal, kita seharusnya menanggalkan keakuan, bukan malah menancapkan bendera ego di atas puncaknya.
Membaca kembali makna gunung dalam budaya Jawa mengajak kita merenung: apakah kita mendaki untuk mendengar bisikan semesta, atau sekadar memuaskan kehausan akan pengakuan? Sudah saatnya kita kembali menundukkan kepala di hadapan kebesaran alam—bukan demi lensa kamera, melainkan demi kewarasan dan kesadaran jiwa.***
Daftar Rujukan:
- Prasetiyo, Ari. (2022). Makna Gunung dan Representasi dalam Budaya Jawa di Kehidupan Sehari-hari. Diskusi FIB Universitas Indonesia.
- Purwoko, Agus. (2013). Gunungan (Nilai-nilai Filsafat Jawa). Yogyakarta: Graha Ilmu.
- Triyoga, Lucas Sasongko. (2010). Merapi dan Orang Jawa. Jakarta: Grasindo.
- Sumadi. (2004). Gunung Merapi Dalam Budaya Jawa. Jurnal Ornamen Vol. 1 No. 2.
- Sunarto, dan Sagio. (2004). Wayang Kulit Gaya Yogyakarta: Bentuk dan Ceritanya. Yogyakarta: Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
- Priyatmoko, Heri. (2014). Gunung dalam Mitologi Jawa. Sinar Harapan.




Tinggalkan Balasan