Di balik naskah kuno beraksara Jawa Cirebonan ini, tersimpan rahasia pengobatan leluhur Sunda. Bukan sekadar meracik daun, naskah Patambaan Siliwangi merekam jejak medis yang kini diteliti BRIN menuju Warisan Budaya Takbenda.
KOSONGSATU.ID – Di balik lembaran naskah tua yang mulai rapuh di etalase Museum Prabu Siliwangi, Kota Sukabumi, tersimpan memori kolektif tentang bagaimana masyarakat Nusantara masa lampau merawat kehidupan.
Naskah itu bernama Patambaan Siliwangi. Tidak sekadar mendaftar nama-nama akar dan daun, manuskrip ini membedah secara presisi tata cara meracik tanaman dan makanan menjadi obat—mulai dari ditumbuk, direbus, digoreng, hingga dibalurkan ke tubuh.
Di masa ketika institusi rumah sakit dan apotek belum dikenal, pengobatan tradisional tidak berdiri di ruang hampa. Ia menyatu dengan kebiasaan dapur, ritme alam sekitar, hingga laku spiritual masyarakatnya.
Pengetahuan empiris yang diwariskan lintas generasi ini kini mulai dikupas lapis demi lapis oleh para peneliti, membuka mata kita bahwa leluhur bangsa ini telah memiliki sistem medis holistik yang sangat terstruktur.
Dapur Karuhun dan Filosofi Penyembuhan Multidimensi
Membaca terjemahan Patambaan Siliwangi seolah diajak masuk ke kehangatan dapur masyarakat Sunda masa lalu. Metode yang paling dominan digunakan adalah pemanfaatan daun segar yang dipipis atau ditumbuk.
Salah satu resep klasik dalam naskah tersebut berbunyi, “Godong cikur lan godong katumpang, lan ades pulasari, dipipis masing anget-anget, dirupusaken ing badané.” Daun kencur, ketumpang air, dan adas ditumbuk, dihangatkan, lalu dibalurkan ke tubuh. Suhu hangat ini diyakini mempercepat penyerapan zat aktif ke dalam pori-pori kulit.
Namun, pengobatan leluhur nyatanya lebih dari sekadar urusan botani. Ada pendekatan unik yang memadukan terapi internal dan eksternal secara bersamaan.
Daging kambing atau ayam, misalnya, digoreng menggunakan minyak wijen. Dagingnya lantas dikonsumsi sebagai penguat dari dalam, sementara sisa minyak gorengannya dibalurkan ke bagian tubuh yang sakit.
Bahkan, metode tak lazim seperti meminum air kocokan cacing di dalam bambu turut dicatat, membuktikan eksplorasi total masyarakat masa itu terhadap potensi biodiversitas hewani dan nabati.
Yang paling menggugah dari naskah ini adalah bagaimana makanan difungsikan sebagai ‘obat sosial’. Penyembuhan sakit perut, misalnya, mensyaratkan penderitanya untuk menyajikan surabi. “Sidekahé sorabi,” tulis naskah itu.
Nasi liwet, nasi wuduk, dan ayam putih juga masuk dalam resep pengobatan melalui ritual sedekah. Konsep ini menegaskan filosofi bahwa kesembuhan fisik tidak akan tercapai tanpa adanya keseimbangan sosial dan laku spiritual untuk saling berbagi.
Pembuktian Empiris Melalui Kajian Filologi BRIN
Kekayaan intelektual yang tertidur seabad lebih ini akhirnya memantik perhatian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Melalui kajian naskah kuno yang berlanjut hingga awal tahun 2026, tim peneliti membedah naskah setebal 148 halaman ini secara kodikologi dan linguistik. Naskah yang diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 ini ditulis dalam bahasa Jawa dialek Cirebon dengan asimilasi lekat kosakata Sunda.
Peneliti filologi, Ilham Nurwansah, menemukan bahwa naskah ini merekam 28 jenis tanaman obat yang sangat akrab di pekarangan masyarakat Jawa Barat.
Ada daun sirih dan buah mengkudu untuk sefalalgia (sakit kepala), daun sembukan untuk menekan gas di perut, hingga tanaman yang kini mulai langka seperti pohon loa dan lame. Keseluruhan resep tersebut bukan sekadar mitos, melainkan catatan panjang uji coba empiris tanpa henti dari generasi ke generasi.
Kompleksitas naskah ini tidak berhenti pada etnobotani. Patambaan Siliwangi turut menyertakan ilmu perbintangan, penanggalan hari baik dan nahas, hingga astrologi tradisional.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem medis saat itu sangat memperhatikan kronobiologi—ilmu yang mempelajari ritme biologis—di mana waktu pengobatan harus selaras dengan pergerakan alam semesta. Bagi para akademisi, naskah ini adalah gerbang pertama untuk melakukan hilirisasi riset, di mana khasiat dari racikan karuhun ini perlu diuji secara klinis di laboratorium modern.
Jalan Panjang Menuju Warisan Budaya Dunia
Bagi K.H. M. Fajar Laksana, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath sekaligus pendiri Museum Prabu Siliwangi, manuskrip ini adalah kepingan puzzle yang akhirnya menemukan tempatnya. Selama lebih dari tiga dekade, ia mempraktikkan pengobatan Etnofarmaka yang diwariskan keluarganya tanpa pernah membaca naskah tersebut.
Mengejutkannya, kajian BRIN membuktikan bahwa praktik pengobatan yang ia jalankan—mulai dari jenis ramuan hingga pendekatannya—identik dengan isi Patambaan Siliwangi.
Kesinambungan antara tradisi lisan, praktik nyata, dan literatur kuno ini menjadi modal kuat untuk menempatkan Patambaan Siliwangi di panggung yang lebih tinggi. Praktik penyembuhan ini bahkan telah diterapkan dalam rehabilitasi penyakit kronis dengan mengintegrasikan pilar dzikir, hipnoterapi, tenaga dalam, dan etnofarmaka yang menorehkan tingkat keberhasilan signifikan.
Kini, langkah besar tengah diupayakan. Konsep Patambaan Siliwangi didorong untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb), sementara manuskrip fisiknya diusulkan menjadi Benda Cagar Budaya.
Jika legitimasi akademik dan kultural ini terwujud, Sukabumi tidak hanya akan menyelamatkan teks kuno dari kepunahan, tetapi juga membuka keran wisata edukasi dan medis yang menjadikan kearifan lokal Nusantara sejajar dengan sistem pengobatan tradisional dunia.***




Tinggalkan Balasan