Harga minyak dunia sudah tembus USD 100, asumsi APBN cuma USD 70. Anehnya defisit kas negara malah menyempit. Bukan karena sakti, tapi cara meramalnya saja yang hobi meleset.
KOSONGSATU.ID — Pernahkah Anda merencanakan liburan akhir pekan dengan ramalan cuaca yang menjanjikan langit cerah tanpa awan, tetapi begitu sampai di tempat tujuan, Anda malah disambut badai petir dan banjir setinggi lutut? Alih-alih buru-buru membeli payung, Anda justru bersiul santai sambil berkata ke semua orang, “Tenang, ini cuma gerimis lewat yang tetap terkendali.”
Kira-kira begitulah potret pengelolaan keuangan negara kita saat berhadapan dengan pasar minyak mentah belakangan ini. Dokumen sakti Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dengan gagah mematok harga minyak mentah Indonesia alias Indonesian Crude Price (ICP) di angka USD 70 per barel. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain.
Pada 11 September 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan bahwa ICP Agustus 2026 sudah melonjak menjadi USD 89,43 per barel, melompat USD 7,75 hanya dalam sebulan dari posisi Juli yang bertengger di USD 81,68. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman beralasan, kenaikan ini dipicu tingginya risiko geopolitik serta ancaman gangguan jalur pasokan minyak global.
Empat hari berselang, pada 15 September 2026, pasar dunia bahkan sudah tertawa meninggalkan angka ESDM tersebut. Minyak mentah jenis Brent di bursa New York melesat hingga USD 106,57 per barel. Pipa raksasa Timur-Barat Arab Saudi berkapasitas 7 juta barel per hari lumpuh dihantam serangan pesawat nirawak, sementara lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz ambrol hingga di bawah 10 persen dari kondisi normal.
Dunia sedang membara, harga minyak terbang tinggi, sementara patokan APBN kita masih membeku di angka USD 70.
Ramalan Cuaca Kementerian yang Hobi Meleset
Mari kita tengok perjalanan harga minyak mentah Indonesia sepanjang 2026: Januari USD 64,41; Februari USD 68,79; Maret USD 102,26; April USD 117,31; Mei USD 106,56; Juni USD 83,45; Juli USD 81,68; dan Agustus USD 89,43.
Kalau kedelapan angka resmi itu dirata-rata, hasilnya adalah USD 89,24 per barel. Artinya, selama delapan bulan berturut-turut, realisasi harga minyak sudah melangkahi asumsi APBN sejauh USD 19,24 per barel alias tekor 27,5 persen. Ini bukan lagi sekadar salah hitung tipis-tipis, melainkan meleset berjemaah hampir sepanjang tahun berjalan.
Ajaibnya, proyeksi bulanan yang dibuat pemerintah pun tampak seperti kalah balapan dengan situasi pasar. Awal Juli 2026, Kementerian ESDM memperkirakan ICP Juli bakal adem ayem di rentang USD 67–71 per barel. Faktanya? Jebol ke USD 81,68 hanya dalam hitungan pekan.
Lelucon birokrasi ini terulang lagi pada bulan ini. Pada 11 September 2026, Ditjen Migas percaya diri memproyeksikan ICP September berada di kisaran USD 83–87 per barel. Namun, di hari yang sama persis dan dari kementerian yang sama pula, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia justru menyebut harga acuan pasar sedang bergolak di angka USD 106–108 per barel.
Lha, satu kementerian dan satu hari yang sama kok bisa memamerkan dua angka yang berselisih USD 20 per barel tanpa penjelasan resmi ke publik? Tentu saja pasar minyak harian berbeda dengan perhitungan rata-rata bulanan, tetapi melempar dua angka kontradiktif ke ruang publik jelas membuat perdebatan anggaran terasa seperti tebak-tebak buah manggis.
Jurang Lebar antara Biosolar dan Dexlite
Pemerintah tentu harus mencari cara agar gejolak minyak ini tidak langsung memicu amuk massa. Caranya sederhana: belah pasar menjadi dua kubu.
Pada 1 dan 2 September 2026, Pertamina menaikkan harga BBM nonsubsidi tanpa ampun. Pertamina Dex melompat dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter (naik 19,1 persen). Dexlite melesat dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter (naik 20,3 persen). Pertamax Green 95 naik Rp2.550 menjadi Rp19.150, dan Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.600 per liter.
Sebaliknya, harga BBM subsidi dipaku mati. Pertalite ditahan di Rp10.000, Biosolar di Rp6.800, bahkan Pertamax nonsubsidi pun ikut dipaksa anteng di Rp15.950 per liter. Kebijakan ini menciptakan jurang harga yang sangat curam. Harga Biosolar kini hanya 28,7 persen dari harga Dexlite. Ada selisih menganga sebesar Rp16.900 per liter untuk dua cairan yang sama-sama berbau solar.
Menteri Bahlil pada 11 September 2026 menegaskan sikapnya: “Pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak ada kenaikan.” Urusan jebolnya anggaran subsidi dijawab santai, “Menambah anggaran subsidi saya pikir itu bagian daripada langkah yang kita lakukan. Membela dan menjaga daya beli masyarakat untuk menengah ke bawah itu jauh lebih penting.”
Niatnya memang mulia, tetapi jurang harga sebesar itu ibarat menaruh tumpukan gula di samping sarang semut. Insentif untuk mengoplos atau menyelewengkan solar bersubsidi ke sektor industri kini menjadi tiga kali lipat lebih menggiurkan dibandingkan tahun lalu.

Berkah Batu Bara Menambal Buntung Minyak
Lalu, seberapa mahal ongkos mempertahankan ketenangan semu ini?
Realisasi belanja subsidi dan kompensasi semester I 2026 sudah menyedot Rp233 triliun, melonjak 44,4 persen dibanding semester I 2025 yang tercatat Rp161,4 triliun. Baru separuh jalan, anggarannya sudah terpakai 52,1 persen dari total pagu tahunan sekitar Rp447,2 triliun. Kementerian Keuangan sendiri pernah menghitung bahwa setiap kenaikan USD 1 per barel ICP berpotensi mengerek defisit hingga Rp6,8 triliun. Dengan selisih rata-rata USD 19,24 per barel, ada potensi pembengkakan beban sekitar Rp130,8 triliun setahun penuh.
Namun, di sinilah letak keajaiban akuntansi negara kita: defisit APBN semester I 2026 justru menyempit menjadi Rp196,5 triliun (0,76 persen PDB), lebih rendah dari semester I 2025 yang sebesar Rp204,2 triliun (0,84 persen PDB).
Kok bisa begitu? Rahasianya ada pada nasib Indonesia yang punya dua kaki. Sebagai pengimpor minyak mentah, kita memang tekor babak belur membayar subsidi bahan bakar. Namun, sebagai eksportir kakap batu bara, gas alam, dan minyak sawit (CPO), kas negara justru kejatuhan durian runtuh setiap kali harga energi dunia meroket. Penerimaan pajak melesat 24,6 persen menjadi Rp1.035,7 triliun, dan PNBP ikut melonjak 21,6 persen ke angka Rp271 triliun.
Buntung di pom bensin berhasil ditutup oleh untung dari lubang tambang batu bara dan perkebunan sawit.
Itulah mengapa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampak sangat tenang dan menolak merevisi asumsi makro. Pada 21 Mei 2026, ia berdalih, “Jadi saya nggak harus mengubah apa-apa lagi, sudah melakukan penghematan yang sudah kita pikir cukup untuk keadaan sekarang.”
Menari di Tepi Jurang Defisit Tiga Persen
Ketenangan Menkeu tentu ada batas kedaluwarsanya. Simulasi internal Kementerian Keuangan membocorkan bahwa jika harga minyak betah bertengger di level USD 92 per barel sepanjang tahun tanpa rem darurat, defisit anggaran bisa melompat hingga 3,7 persen terhadap PDB.
Angka 3,7 persen ini bukan perkara sepele karena Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 mengharamkan defisit melebihi ambang 3 persen. Lucunya, Purbaya sejak Maret 2026 sudah pasrah bila batas undang-undang itu terpaksa ditabrak: “Kalau perintah kan kami jalankan. Saya kan cuma tangan presiden.”
Sikap santai pejabat kita memang kerap menua terlalu cepat. Pada 11 Maret 2026 lalu, saat rata-rata harga minyak masih di angka USD 68,4, Purbaya sempat sesumbar bahwa harga minyak masih di bawah asumsi USD 70 sehingga ruang fiskal masih sangat aman. Tiga pekan kemudian, Maret ditutup di angka USD 102,26 dan April menyentuh USD 117,31. Kepercayaan diri di awal Maret langsung basi sebelum sempat berganti bulan.
Kini, rata-rata delapan bulan pertama sudah berada di level USD 89,24 per barel, menempel ketat batas kritis USD 92. Sementara di pasar valuta, rupiah tertekan di kisaran Rp17.680 per USD. Minyaknya dibeli pakai dolar yang makin mahal, lalu subsidinya dibayar pakai rupiah yang makin loyo. Beban ini tidak bertambah secara penjumlahan biasa, melainkan berlipat ganda secara perkalian.
Pemerintah boleh saja terus membanggakan defisit yang menyempit dan menyuruh rakyat tenang menikmati bensin murah. Namun, menaruh nasib APBN pada keberuntungan harga batu bara sambil membiarkan asumsi minyak jebol berbulan-bulan rasanya mirip seperti bermain kartu di tepi jurang: Anda merasa menang terus, sampai akhirnya tersadar tanah tempat Anda berpijak perlahan mulai longsor.***





Tinggalkan Balasan