Kementerian Kebudayaan merilis lima dari sebelas jilid buku sejarah nasional usai menuai polemik. Masyarakat dapat mengunduh gratis ribuan halaman ini melalui platform digital resmi.
KOSONGSATU.ID – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon meresmikan peluncuran lima jilid perdana buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Acara ini berlangsung di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta, pada Senin, 31 Agustus 2026.
”Kita luncurkan lima pertama terlebih dahulu. Sisa selanjutnya jilid enam hingga sebelas menyusul pada September atau Oktober,” ujar Fadli.
Fadli menjelaskan bahwa edisi cetak karya setebal 5.700 halaman ini didistribusikan secara terbatas ke perpustakaan. Kendati demikian, masyarakat umum dapat mengaksesnya secara daring tanpa biaya.
Akses Digital dan Unduh Gratis
Seluruh dokumen sejarah tersebut diunggah ke portal resmi pustakabudaya.id. Langkah digitalisasi ini mempermudah publikasi luas tanpa membebani biaya cetak bagi masyarakat.
”Seluruh berkas publik yang diluncurkan hari ini, dapat diunduh secara gratis oleh masyarakat luas melalui platform digital,” terangnya.
Untuk mengunduh, publik wajib mendaftar akun dan memverifikasi alamat surel. Setelah masuk, pengguna dapat meminjam buku secara virtual selama 30 hari sebelum menyimpan berkas digitalnya.
Bantahan Intervensi dan Catatan Penolakan
Sebelumnya, proyek ini menuai kritik pada 2025 dari Aliansi Keterbukaan Sejarah Indonesia dan sejumlah arkeolog. Mereka menilai pengerjaan yang terlalu singkat rawan menghasilkan tafsir tunggal pemerintah.
Ihwal kekhawatiran tersebut, Anggota Komisi X DPR Mercy Chriesty Barends sempat mendesak penundaan penulisan ulang. Ia khawatir penghilangan narasi kelam sejarah akan melukai memori kolektif bangsa.
”Kalau memilih-milih saja mana yang ditulis, ada banyak kekelaman yang tak bisa kami ungkapkan,” kata Mercy.
Selain itu, Fadli berulang kali membantah adanya campur tangan dari pemerintah. Ia mengeklaim kementerian sekadar memfasilitasi 123 akademisi dan sejarawan independen untuk menyusun narasi tersebut.
Isi Lima Jilid Perdana
Kelima jilid yang telah dirilis merangkum perjalanan Nusantara dari era prasejarah hingga terbentuknya negara kolonial. Jilid pertama membahas fondasi biologis dan kultural, termasuk jejak peradaban purba.
Jilid kedua dan ketiga menyoroti interaksi perjumpaan budaya dengan India, Tiongkok, Persia, hingga Timur Tengah. Kontak dagang ini mendorong akulturasi dan lahirnya identitas multikultural Nusantara.
Selanjutnya, jilid keempat menganalisis intervensi awal bangsa Barat, disusul jilid kelima tentang penataan administrasi kolonial. Rangkaian ini diharapkan membuka ruang dialog sejarah yang lebih terbuka.
”Sejarah bukan lagi sekadar hafalan tanggal, nama tokoh, dan instrumen untuk mengasah nalar kritis, memahami akar persoalan kontemporer,” kata Fadli.***





Tinggalkan Balasan