Penemuan arkeologis dari nisan kuno hingga tata jalur sungai membuktikan bahwa penyebaran Islam di Nusantara berjalan melalui percampuran budaya lokal.
KOSONGSATU.ID – Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Herry Jogaswara mengatakan perjumpaan Islam dan budaya lokal melahirkan hibridasi. Percampuran ini membentuk karakter unik peradaban Islam di Nusantara. Hal tersebut terungkap dalam diskusi kebudayaan daring pada Rabu (12/8).
“Ketika masuk bumi Nusantara itu tidak pernah ada yang bisa betul-betul murni. Karena berjumpa dengan kebudayaan lokal dan kemudian terjadi hibridasi, penyerbukan budaya,” kata Herry mengonfirmasi.
Tafsir Ulang Makam Kuno
Selain itu, jejak negosiasi budaya tersebut dapat ditelaah melalui peninggalan material. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN Masyhudi mengkaji ulang inskripsi pada makam Fatimah binti Maimun di Gresik.
Masyhudi menjelaskan ada perbedaan pembacaan angka tahun pada nisan tersebut. Melalui kajian karakter huruf Arab, ia menafsirkan angka tahun itu adalah 495 Hijriah atau 1102 Masehi, bukan 475 Hijriah.
“Melalui pemahaman karakter huruf telah memunculkan satu interpretasi baru pada nisan makam dengan angka tahun 495 Hijriah. Ini berarti abad ke-12 Masehi, bukan abad ke-11,” ujarnya.
Jaringan Sungai dan Simbol
Ihwal penyebaran ajaran, akademisi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Tendy menyoroti peran sentral jaringan Sungai Cimanuk di Jawa Barat. Sungai bukan sekadar jalur perdagangan perantara, melainkan ruang pertukaran gagasan sosial.
“Islamisasi tidak sekadar bergerak dari lautan menuju daratan, karena Islamisasi itu bergerak melalui sungai, pasar, permukiman, jaringan sosial, dan institusi keagamaan,” tegas Tendy.




Tinggalkan Balasan