Bukti otentik kemerdekaan Indonesia nyaris tak bersisa akibat ketatnya penjagaan militer Jepang. Keteladanan dan kenekatan sejumlah jurnalis berhasil menyelamatkan kepingan memori kolektif bangsa.

KOSONGSATU.ID – Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Imam Gunarto menyatakan ketiadaan panitia resmi membuat dokumentasi Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 luput dari perencanaan. Kedaruratan situasi mengancam tersimpannya memori bangsa.

​Direktur Kearsipan Pusat ANRI Azmi menegaskan pentingnya ketersediaan arsip tersebut bagi masa depan. “Rekaman informasi faktual peristiwa yang sangat penting ini merupakan memori kolektif sejarah perjalanan perjuangan bangsa,” kata Azmi.

​Pernyataan itu beralasan karena persiapan di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 lebih berfokus pada hal teknis penyelenggaraan. Bahkan, siaran proklamasi melalui radio swasta Belanda gagal mengudara akibat kabel yang diputus tentara Jepang.

​Sebelumnya, Ketua Barisan Pelopor dr. Moewardi menyiagakan pasukan bersenjata lengkap untuk mengantisipasi kedatangan serdadu Jepang. Kegentingan ini kian menyulitkan upaya penyelamatan kepingan dokumentasi kemerdekaan Indonesia.

​Draf Teks di Keranjang Sampah

​Ihwal naskah asli proklamasi, sejarah mencatat peran penting jurnalis harian Asia Raya, Burhanuddin Muhammad Diah. Ia memungut draf tulisan tangan Soekarno yang dibuang ke keranjang sampah di kediaman Laksamana Tadashi Maeda.

​“Sudah dikuwel-kuwel. Makanya kalau kita lihat sekarang kan ada bekas kerut-kerutan di kertas itu,” ujar Imam Gunarto saat menjelaskan kondisi naskah bersejarah berukuran 25,8 sentimeter kali 21,3 sentimeter tersebut.

​Diah menyimpan naskah asli itu sejak 16 Agustus 1945 malam sebelum menyerahkannya kepada negara pada 1992. Tanpa naluri jurnalistiknya, tulisan tangan penentu lahirnya negara baru tersebut mungkin sudah musnah tak bersisa.

​Kamera Bersembunyi di Kotak Mentega

​Selain teks, bukti visual proklamasi berhasil diabadikan oleh Mendur bersaudara, Frans Soemarto Mendur dan Alexius Impurung Mendur. Frans menyembunyikan kamera Leica dari intaian militer Jepang saat tiba di lokasi acara.