Sebuah percakapan tentang ritual, jeda, tradisi, dan bentuk baru yang lahir dari kebutuhan lama manusia.

KOSONGSATU.ID — Ada hal-hal yang kita terima dengan tenang hanya karena ia datang memakai pakaian yang kita kenal. Lilin kecil menyala di sudut kamar, aromaterapi menguap dari diffuser, musik pelan, mata dipejamkan, lalu orang berkata: ini self-care. Kita mengangguk. Tidak ada rapat khusus untuk mencurigainya.

Tidak ada sidang kebudayaan untuk menentukan apakah ia modern, mistis, ilmiah, atau sekadar wangi-wangian yang diberi istilah Inggris.

Tetapi coba pakaiannya diganti sedikit. Aromanya tidak lagi memenuhi ruangan, melainkan dihisap. Mendadak dahi kita berkerut. Pertanyaan berdatangan lebih cepat daripada kesediaan untuk memahami. Ini apa? Untuk apa? Jangan-jangan begini, jangan-jangan begitu.

Manusia rupanya sering tidak menilai hakikat sesuatu; ia lebih dahulu bereaksi terhadap bentuk yang sudah telanjur diberi cap di dalam kepalanya.

Jeda yang Selalu Dicari Manusia

Padahal lilin aromaterapi, dupa, kopi yang diseduh pelan, teh yang dituang dengan tata cara tertentu, atau orang yang duduk menatap api unggun, mungkin sedang mengerjakan perkara yang hampir sama: menciptakan jeda.

Bukan jeda karena pekerjaan selesai, melainkan jeda supaya manusia tidak sepenuhnya ditelan oleh pekerjaan. Bukan berhenti hidup, melainkan berhenti sebentar agar tahu bahwa dirinya masih hidup.

Kita sering mengira yang menenangkan adalah benda. Padahal benda hanya mengetuk pintu. Yang membuka pintu adalah kesediaan kita untuk berhenti. Aroma membantu perhatian berpindah dari gaduh yang tidak bisa dikendalikan menuju satu pengalaman yang lebih sederhana: menarik napas, merasakan, lalu melepaskan. Pada saat itulah pikiran yang semula berlari ke pasar, kantor, tagihan, percakapan, masa depan, dan penyesalan, dipanggil pulang ke tubuhnya sendiri.

Orang Jawa mungkin berkata: supaya ati rada lerem. Bahasa psikologi mungkin menyebutnya pengalihan perhatian, pengondisian ritual, atau pengaturan ritme napas. Bahasa pasar menyebutnya relaksasi. Bahasa anak muda menyebutnya healing. Namanya banyak. Kebutuhannya satu: manusia memerlukan ruang kecil di antara dirinya dan keruwetan dunia.

Tradisi, Simbol, dan Bahasa Batin

Maka pertanyaannya seharusnya tidak tergesa-gesa: “Ini klenik atau bukan?” Pertanyaan yang lebih jernih ialah: “Apa yang sebenarnya berlangsung pada manusia ketika ia menjalani ritual ini?” Sebab sesuatu tidak otomatis menjadi benar hanya karena disebut tradisi. Namun ia juga tidak otomatis menjadi salah hanya karena kita belum memiliki kosakata modern untuk menjelaskannya.