Di bawah Bukit Selong, tujuh rumah kayu berdiri seperti halaman terakhir dari sebuah buku tua. Sebagian atap ilalangnya mulai menipis, pagar bambunya lapuk, tetapi jejak pemukiman awal masyarakat Sembalun itu kini mendapat pengakuan baru: tanah tempatnya berdiri resmi ditetapkan sebagai tanah ulayat.
KOSONGSATU.ID — Udara dingin Sembalun Lawang menyambut siapa pun yang memasuki Bale Beleq, kompleks rumah adat di kaki Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Di antara perbukitan hijau dan kebun warga, enam bangunan rumah adat masih berdiri di dalam kawasan yang oleh masyarakat setempat diyakini dahulu dihuni tujuh keluarga pendiri. Satu bangunan lain telah hilang dimakan usia.
Rumah-rumah itu tidak besar. Dindingnya dari anyaman bambu, atapnya ilalang, dan lantainya ditinggikan dari tanah. Namun, dari susunan sederhana itulah tersimpan cerita tentang perpindahan penduduk, letusan gunung, pembagian ruang keluarga, hingga aturan adat yang membuat jumlah rumah di kompleks itu tidak boleh bertambah.
“Sejarahnya, tujuh kepala keluarga mendirikan Desa Beleq dengan membangun tujuh rumah di sana,” kata Yamni, warga Sembalun.
Menurut cerita yang diwariskan warga, setiap rumah dibangun dari satu pohon utuh tanpa mencampurkan kayu dari pohon lain. Keturunan keluarga pendiri yang ingin membangun rumah baru tidak diperbolehkan mendirikannya di dalam kompleks Bale Beleq.
Mereka harus membangun hunian di luar kawasan adat. Dari perpindahan itulah, menurut penuturan masyarakat, kemudian tumbuh permukiman baru di sekitar Sembalun.
Desa Tua di Bayang-Bayang Samalas
Nama Beleq dalam bahasa Sasak lazim dipahami sebagai “besar”. Namun, bagi masyarakat Sembalun, kata itu juga memiliki arti lain: tua.
Martawi, tokoh adat Sembalun Lawang, menyebut Bale Beleq sebagai salah satu titik awal pemukiman masyarakat di wilayah Sembalun. Dalam ingatan kolektif warga, kompleks itu bukan sekadar kumpulan rumah tradisional, melainkan penanda asal-usul kampung.
“Desa Beleq berarti desa tua, bukan desa besar,” kata Martawi.


Tinggalkan Balasan