Serunya siswa MANPK MAN 1 Surakarta bebas pilih buku impian di Gramedia. Langkah asyik madrasah hidupkan nyala literasi.


KOSONGSATU. ID – Keceriaan itu bukanlah tanpa alasan. Melalui gebrakan kreatif, Perpustakaan Ibnu Sina bersama Tim Literasi MANPK MAN 1 Surakarta sukses mengubah stigma kaku kegiatan membaca menjadi sebuah petualangan healing yang sangat menyenangkan bagi seluruh warga madrasah.

Investasi Ilmu yang Tak Lekang Waktu

Sejalan dengan misi memperkaya khazanah keilmuan, tim literasi madrasah kembali melangkah pasti pada Selasa (9/6/2026). Mereka menyambangi Gramedia untuk memilih dan menghadirkan ragam koleksi bacaan terbaik.

Dari rak sejarah yang penuh romansa masa lalu hingga teknologi modern yang memacu nalar, semuanya disaring dengan teliti. Bahkan, literasi umum dan buku pengembangan diri turut masuk ke dalam keranjang belanja.

Seperti ungkapan bijak yang sering kita dengar, “Buku adalah jendela dunia, dan kuncinya ada pada kemauan kita untuk membukanya.”

Lebih dari sekadar tumpukan kertas bersampul, buku menyajikan pengetahuan, pengalaman, dan ide-ide besar yang mampu mendobrak batasan ruang dan waktu. Setiap judul yang terpilih hari ini merupakan investasi ilmu murni, yang kelak memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi penerus bangsa.

Mewujudkan Buku Idaman Lewat ‘War of Books’

Bukan hanya menambah koleksi perpustakaan, madrasah ini juga menyentuh langsung denyut nadi ketertarikan siswa. Sebelumnya, pada Jumat (13/2/2026) silam, Perpustakaan Ibnu Sina meluncurkan program unggulan bertajuk “War of Books”. Program ini hadir sebagai bentuk pelayanan prima yang memanjakan para murid.

Mereka diajak langsung mengunjungi Gramedia Slamet Riyadi Solo untuk ‘mborong’ dan men-checkout impian memiliki buku yang paling mereka idam-idamkan.

Pengalaman berharga ini rupanya membekas lekat di hati para siswa. Salah satu siswi yang ikut serta, mengungkapkan kebahagiaannya. “Rasanya luar biasa senang! Biasanya saya cuma bisa melihat ulasan buku itu di internet atau nge-list di wishlist, tapi lewat program ini saya bisa langsung memilih dan membawanya pulang untuk referensi belajar,” ujarnya dengan mata berbinar.

Senada, seorang siswa lainnya, merasa program ini membuat kegiatan membaca tak lagi membosankan. “Jalan-jalan ke toko buku sama teman-teman dan guru itu healing yang asyik banget. Kita jadi makin semangat baca karena bukunya sesuai banget sama apa yang kita suka,” tuturnya antusias.

Komitmen Kuat Sang Pendidik

Tentu saja, kesuksesan program literasi ini tidak lepas dari sentuhan dingin para guru yang peduli pada perkembangan intelektual anak didiknya. Rifmiyanto (42 tahun), salah seorang guru yang mengawal program ini, menegaskan bahwa pendekatan yang menyenangkan adalah kunci utama membangun karakter siswa.

“Kami ingin anak-anak tidak merasa dipaksa untuk membaca, tetapi justru mencintai prosesnya. Membaca harus tumbuh menjadi sebuah gaya hidup. Oleh karena itu, membebaskan mereka memilih buku kesukaan di toko buku adalah pintu masuk yang paling efektif untuk menumbuhkan budaya tersebut,” papar Rifmiyanto kepada Kosongsatu.id, Kamis (11/6/2026).

Langkah MANPK MAN 1 Surakarta membuktikan bahwa menumbuhkan minat baca tidak selalu membutuhkan ruang kelas yang hening dan aturan yang kaku. Dengan sedikit kreativitas dan kebebasan berekspresi, kegiatan literasi menjelma menjadi kenangan manis yang akan selalu menghidupkan kecintaan siswa pada ilmu pengetahuan.***