Bulan terus menjauh dari Bumi sekitar 2,5–3,8 sentimeter per tahun. Dampaknya bukan bencana cepat, melainkan perubahan sangat lambat pada panjang hari dan pasang laut.


KOSONGSATU.ID – Bulan tidak benar-benar diam mengitari Bumi. Satelit alami itu perlahan bergerak menjauh akibat interaksi gravitasi dengan lautan dan rotasi Bumi. NASA mencatat Bulan rata-rata berada sejauh 384.400 kilometer dari Bumi dan terus menjauh sekitar satu inci per tahun.

Fenomena ini terjadi karena tarikan gravitasi Bulan membentuk tonjolan pasang surut di lautan. Ketika Bumi berputar lebih cepat daripada orbit Bulan, tonjolan air itu sedikit “menarik” Bulan ke depan. Energi rotasi Bumi berpindah ke orbit Bulan.

Hari Makin Panjang, Tapi Amat Lambat

Dampaknya, rotasi Bumi melambat sangat kecil. NASA menyebut gesekan pasang surut Bulan selama miliaran tahun menjadi penyebab utama bertambahnya panjang hari di Bumi, rata-rata sekitar 2,4 milidetik per abad.

University of Toronto menjelaskan, ketika Bulan baru terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, satu hari di Bumi berlangsung kurang dari 10 jam. Kini satu hari menjadi sekitar 24 jam karena tarikan Bulan perlahan memperlambat putaran Bumi.

Namun perubahan ini tidak terasa langsung oleh manusia. Tambahan milidetik per abad terlalu kecil untuk dirasakan dalam aktivitas harian. Dampaknya baru penting pada pengukuran waktu presisi, navigasi antariksa, sistem satelit, dan kajian astronomi jangka panjang.

Bukan Ancaman Dekat

Bulan juga berperan menjaga pasang surut laut dan membantu menstabilkan kemiringan sumbu Bumi. Karena itu, perubahan jarak Bulan bisa memengaruhi dinamika Bumi dalam skala sangat panjang, tetapi bukan ancaman yang terjadi dalam hitungan tahun atau abad.

Dalam skala manusia, Bulan masih akan tampak seperti biasa. Ia tetap terbit, tenggelam, memicu pasang laut, dan menjadi penanda waktu alam. Yang berubah adalah keseimbangan kosmik yang bergerak pelan, jauh melampaui umur satu generasi.

Dengan kata lain, Bulan memang menjauh. Hari di Bumi memang bertambah panjang. Tetapi perubahan itu berjalan sangat lambat, sehingga lebih tepat dibaca sebagai kisah panjang evolusi Bumi–Bulan, bukan tanda bencana yang segera dirasakan warga.***