Ia menyoroti beberapa dampak negatif yang kini menghantui kalangan remaja dan anak-anak akibat penggunaan teknologi tidak bijak. Beberapa di antaranya adalah fenomena fear of missing out (FOMO), budaya pamer atau flexing, hingga tindakan perundungan (bullying) di dunia maya.
Target Generasi Cerdas Digital
Pemerintah tidak menafikan sisi positif kemajuan teknologi. Di sektor pendidikan, AI diakui telah banyak membantu para pegiat pendidikan dalam proses belajar-mengajar. Atas dasar dualisme dampak tersebut, pemerintah menyusun panduan penggunaan teknologi secara bijak.
Melalui SKB ini, pemerintah menargetkan lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga mampu mengoptimalkan teknologi untuk kemajuan kapital, etika, dan moral.
“Jadi agar anak-anak kita tidak dikuasai dengan teknologi, tapi menguasai teknologi untuk kebajikan. Itulah tujuan kita,” tandas Pratikno.
Aturan ini berlaku untuk jalur pendidikan formal, non-formal, hingga informal, memastikan pemanfaatan AI di seluruh jenjang pendidikan berjalan terkendali dan bermanfaat.***




Tinggalkan Balasan