“Pemilihan material pertanian untuk produksi etanol yang menggantikan tanaman bernilai ekonomi tinggi sangat diperlukan,” ujarnya dalam laporan risetnya.

Menurutnya, variasi tanaman akan menjaga keseimbangan ekonomi dan mencegah monokultur yang rentan krisis.

Masih Tahap Laboratorium

Meski hasil riset menjanjikan, uwi ungu belum memasuki tahap komersialisasi massal.

Belum ada regulasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia yang memasukkan uwi ungu ke dalam peta jalan mandatori bioetanol nasional.

Fokus pemerintah saat ini masih pada swasembada gula dan pengembangan singkong sebagai bahan baku utama bioetanol.

Artinya, uwi ungu masih berada pada tahap bioprospeksi akademik dan uji laboratorium. Belum ada distribusi atau pencampuran di SPBU.

Namun, dampaknya berpotensi signifikan. Investasi pada infrastruktur pengolahan Dioscorea alata dapat menekan impor bahan bakar fosil dan menurunkan emisi karbon.

Di sisi lain, pengembangan tanaman ini berpeluang merevitalisasi lahan marginal dan membuka ekosistem ekonomi baru bagi petani lokal.

Transisi energi Indonesia kini berada pada persimpangan. Uwi ungu menawarkan peluang, tetapi keputusan kebijakan dan kesiapan industri akan menentukan apakah potensi itu berhenti di jurnal ilmiah atau benar-benar mengalir ke tangki kendaraan. ***