Belulut menjadi salah satunya.

Tradisi itu juga memperlihatkan cara hidup yang nyaris tanpa sisa. Tanah berasal dari sekitar kampung. Air digunakan secukupnya. Kotoran ternak, yang dalam banyak tempat dianggap limbah, dipakai kembali sebagai bahan perawatan lantai. Tidak ada kemasan sekali pakai, tidak ada bahan bangunan pabrikan yang harus didatangkan dari jauh.

Tetapi kehidupan tradisional tidak selalu berarti kehidupan yang bebas persoalan. Penggunaan kotoran ternak di ruang hunian tetap membutuhkan perhatian pada kebersihan, ventilasi, kondisi penghuni, serta kemungkinan paparan bakteri. Menjaga warisan tidak harus berarti menutup mata terhadap pengetahuan kesehatan yang berkembang.

Lantai yang Tak Boleh Retak

Bagi Inaq Lip, pertimbangan itu mungkin terdengar jauh dari rutinitas pagi yang ia jalani. Yang ia tahu, lantai rumah harus dirawat agar tidak retak. Debu harus ditekan. Bale tani harus tetap berdiri seperti rumah yang diwariskan kepadanya.

Ketika campuran tanah dan kotoran sapi itu mengering, warna lantai kembali rata. Inaq Lip kemudian mengambil sapu lidi, membersihkan sisa-sisa yang menempel, dan rumah itu kembali siap menerima orang-orang yang datang.

Di Desa Sade, warisan tidak hanya dipajang di depan kamera. Ia diusap dengan tangan, dirawat dari lantai, dan dijaga agar tidak retak.***