Yang dimaksud Inaq Lip adalah kotoran sapi yang masih segar. Menurut pengalaman warga, bahan itu lebih mudah diratakan dan tidak meninggalkan aroma menyengat setelah lapisan lantai mengering. Sesudahnya, permukaan cukup disapu menggunakan sapu lidi padi.
Merawat Bale Tani dari Lantai
Di banyak rumah tradisional Sasak, penggunaan tanah liat dan kotoran ternak bukan sekadar pekerjaan domestik. Ia menjadi bagian dari cara warga menjaga bale tani—rumah tinggal tradisional yang dibangun dengan bahan-bahan alami, dari atap alang-alang, tiang kayu, bambu, hingga lantai tanah.
Literatur tentang rumah tradisional Sasak juga mencatat penggunaan plesteran kotoran sapi atau kerbau pada lantai rumah tanah. Dalam praktik warga, bahan itu diyakini membantu menekan debu, menghaluskan permukaan, serta menjaga lantai agar tidak mudah retak. Namun, keyakinan tersebut tumbuh dari pengalaman turun-temurun dan tidak bisa serta-merta diperlakukan sebagai klaim medis atau sanitasi yang telah teruji secara menyeluruh.
Tradisi ini, justru, menghadirkan pertemuan yang rumit antara kearifan lokal dan pertanyaan kesehatan modern.

Ketika Tradisi Bertemu Pertanyaan Kesehatan
Sebuah penelitian yang menelaah praktik mengepel dengan kotoran sapi di Desa Sade pada 2025 mengingatkan adanya kemungkinan risiko infeksi saluran pernapasan akut, terutama bagi anak-anak, apabila material mengandung bakteri patogen dan partikel dari lantai terpapar ke udara. Temuan itu tidak serta-merta membatalkan tradisi belulut, tetapi membuka kebutuhan untuk melihatnya dengan lebih hati-hati: sebagai pengetahuan budaya yang perlu dirawat, sekaligus praktik yang perlu dipahami risikonya.
Di titik itulah, belulut tidak bisa hanya dipandang sebagai atraksi wisata.
Ia adalah kerja sehari-hari. Kerja yang dilakukan perempuan-perempuan Sasak untuk membuat rumah tetap layak dihuni, ketika lantai retak, ketika debu kembali naik, ketika musim kering membuat tanah menjadi rapuh. Dalam satu sapuan tangan, ada perawatan rumah, pengetahuan bahan, dan ingatan keluarga yang tidak pernah ditulis dalam buku pelajaran.
Kampung yang Tidak Sekadar Dipotret
Desa Sade selama ini dikenal sebagai salah satu wajah budaya Sasak di Lombok. Para wisatawan datang untuk melihat tenun, lumbung padi, bale tani, dan deretan atap alang-alang yang menjadi penanda kampung. Namun, di balik foto-foto itu, ada pekerjaan sunyi yang membuat semua bangunan tersebut tetap bertahan.




Tinggalkan Balasan