Investigasi awal PBB menyebut satu prajurit TNI tewas akibat proyektil tank Israel, sementara dua lainnya gugur oleh ledakan IED yang diduga dipasang Hizbullah.


KOSONGSATU.ID—Investigasi awal Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkap tiga prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL gugur dalam dua insiden terpisah di Lebanon selatan pada 29–30 Maret 2026. 

Mengutip laporan Reuters, temuan awal itu menyebut satu korban terkena proyektil tank Israel, sedangkan dua lainnya meninggal akibat ledakan bom rakitan atau IED yang kemungkinan besar dipasang Hizbullah. 

Laporan awal itu telah disampaikan United Nations Department of Peace Operations kepada Pemerintah Indonesia pada Senin, 6 April 2026. Juru bicara PBB Stephane Dujarric menegaskan temuan tersebut masih bersifat awal dan penyelidikan penuh masih berjalan, termasuk dengan melibatkan pihak-pihak terkait di lapangan. 

Korban yang gugur adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadhon. Ketiganya menjadi bagian dari gelombang pertama korban jiwa UNIFIL sejak perang baru Israel-Hizbullah pecah pada 2 Maret 2026 dan memperburuk situasi keamanan di Lebanon selatan. 

Temuan Awal Picu Tekanan Diplomatik

Pelaksana Tugas Direktur Keamanan dan Perdamaian Internasional Kementerian Luar Negeri RI, Veronica Vicka Ancilla Rompis, menegaskan pemerintah Indonesia masih menunggu hasil investigasi penuh. Namun, ia menyatakan Indonesia akan mengutuk keras Israel bila temuan akhir mengonfirmasi hasil investigasi awal tersebut. 

“Apabila hasil investigasi penuh mengonfirmasi temuan investigasi awal ini, maka pemerintah Indonesia akan mengutuk keras Israel,” kata Veronica kepada wartawan pada Rabu, 8 April 2026. Ia menambahkan seluruh pelaku harus dibawa ke pengadilan dan dimintai pertanggungjawaban.  

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebelumnya menyebut serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian sebagai pelanggaran berat hukum humaniter internasional yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. PBB juga meminta kasus ini diselidiki dan dituntut oleh otoritas nasional agar pelaku diadili.  

UNIFIL Akui Situasi Lapangan Makin Berbahaya

UNIFIL menyatakan dua peristiwa itu terjadi dalam situasi tempur yang sangat berbahaya. Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, sebelumnya menegaskan kedua insiden tersebut berbeda dan sedang diperiksa secara terpisah. Ia juga menyebut setiap penyerangan terhadap penjaga perdamaian tidak dapat diterima. 

Selain tiga korban tewas, sedikitnya empat prajurit Indonesia lainnya terluka dalam dua insiden itu, termasuk yang mengalami luka kritis. Insiden tersebut memperbesar tekanan terhadap PBB untuk menjamin keselamatan pasukan penjaga perdamaian yang kini makin sering terjebak di antara serangan Israel dan operasi kelompok bersenjata di Lebanon selatan.***