Ihsan yang Meluas
Konsep ihsan—beribadah seakan-akan melihat Tuhan—dalam tasawuf kontemporer tak lagi cukup diterapkan dalam relasi vertikal. Ia menuntut kepekaan ekologis. Kesalehan hari ini diukur dari sejauh mana seseorang menjaga harmoni dengan alam, bukan hanya dengan sesama manusia.
Pemaknaan ini diperkuat oleh Bambang Irawan, Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang memperkenalkan gagasan Green Sufism. Menurutnya, mencintai alam adalah bagian dari mencintai Tuhan. Tasawuf, kata Bambang, bukan pelarian bagi mereka yang enggan menghadapi realitas sosial, apalagi legitimasi religius untuk menghindari tanggung jawab.
“Apa artinya mahabbah kepada Sang Khalik jika cinta kepada ciptaan-Nya absen?” ujarnya suatu kali. Tasawuf yang hanya berhenti pada kesalehan individual, menurut Bambang, berisiko melahirkan “berhala-berhala baru” dalam spiritualitas.
Lima Pilar Tasawuf Hijau
Green Sufism, dalam kerangka Bambang, berdiri di atas lima pilar. Pertama, tazkiyat al-nafs ekologis—pendidikan batin untuk menahan nafsu eksploitasi. Kedua, tawadhu kosmik dalam tata kelola: kebijakan kehutanan yang rendah hati terhadap daya dukung alam dan menghormati hak masyarakat adat. Ketiga, ibadah ekologis—reboisasi sebagai zikir kolektif. Keempat, penguatan kearifan lokal spiritual yang menjaga hutan selama berabad-abad. Kelima, ekonomi berjiwa sufistik yang menimbang keberkahan, bukan sekadar laba jangka pendek.
Di tengah dunia yang memuja percepatan dan akumulasi, tasawuf menawarkan jeda—bukan untuk lari, melainkan untuk merawat. Ia mengingatkan bahwa bumi bukan warisan, melainkan titipan. Dan bahwa keselamatan spiritual manusia, pada akhirnya, terikat pada kesediaannya menjaga rumah bersama: semesta.***


Tinggalkan Balasan