Ketika AI Menyerap Bias Lama

Yang lebih menakutkan lagi: bias orientalis kini diserap ke dalam kecerdasan buatan (AI). Sistem seperti image generator, machine translation, dan text model belajar dari miliaran data yang sebagian besar berasal dari wacana Barat.

Maka jangan heran bila AI menggambarkan “orang Arab” dengan pakaian perang, atau “orang Asia Tenggara” dengan pasar kumuh dan sawah, sementara “orang Eropa” selalu muncul di ruang modern dengan pencahayaan putih.

AI tidak netral. Ia adalah cermin raksasa dari prasangka global. Dan di sinilah teori Edward Said menemukan relevansi barunya: Orientalisme kini tak lagi ditulis dengan pena kolonial, tapi dengan kode digital.

Melawan dengan Menulis Ulang Dunia

Melawan orientalisme digital tidak bisa dilakukan dengan marah, tapi dengan membangun narasi alternatif. Kita harus hadir — menulis, mencipta, dan memproduksi — bukan sekadar menjadi konsumen citra tentang diri kita sendiri. Karena algoritma hanya mengenali dunia dari apa yang kita perbincangkan.

Bayangkan jika lebih banyak film, artikel, dan karya digital yang menampilkan Timur sebagai pusat gagasan, bukan latar eksotik. Bayangkan jika AI dilatih dengan kisah dari Nusantara, Persia, India, dan Tiongkok — bukan hanya dari arsip Barat.

Barangkali, untuk pertama kalinya sejak ratusan tahun, dunia akan melihat Timur sebagaimana adanya: bukan bayangan, tapi sumber cahaya.

“Penjajahan hari ini bukan soal siapa yang memegang senjata, tapi siapa yang menulis narasi.” — Refleksi Edward Said, jika ia hidup di zaman algoritma.***