1. Pemalsuan atau manipulasi dokumen kepemilikan lahan.
  2. “Titipan” kayu dari luar areal PHAT agar seolah-olah berasal dari PHAT dengan LHP fiktif.
  3. Pemalsuan LHP terkait petak, diameter, dan panjang kayu.
  4. Perluasan batas peta PHAT hingga masuk kawasan hutan negara.
  5. Penggunaan PHAT milik masyarakat sebagai “nama pinjam” untuk penebangan skala besar.
  6. Pengiriman kayu melebihi volume LHP/SKSHHK dengan penggunaan berulang dokumen.
  7. Penarikan kayu dari kawasan hutan yang kemudian diregistrasi sebagai kayu PHAT setelah dipindahkan.

Dwi menyebut pola-pola tersebut menjadi celah utama pembalakan liar yang memperparah kerusakan hutan di Sumatera.***