Perdebatan soal cara salam merdeka yang benar kembali mengemuka. Maklumat pemerintah pada 1945 menetapkan jari terbuka, berbeda dengan gaya tangan mengepal yang populer saat ini.

KOSONGSATU.ID – Pengelola Rumah Masa Kecil Bung Karno sekaligus Ketua Harian Situs Ndalem Pojok Persada Soekarno Kediri, RM. Kushartono, meluruskan tata cara salam pekik merdeka yang sering dilakukan dengan tangan mengepal ke atas.

​”Dokumen foto-foto Bung Karno salam pekik merdeka selalu dengan jari lima seperti memberi hormat, bukan dengan tangan mengepal,” kata Kushartono di Kediri, Jawa Timur.

​Menurutnya, salam merdeka yang benar harus dilakukan dengan tangan terbuka dan diangkat setinggi bahu. Hal ini merujuk pada kebiasaan sejarah yang diajarkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

​Ihwal tata cara salam kebangsaan ini tertuang dalam Maklumat Pemerintah tertanggal 31 Agustus 1945. Aturan tersebut mulai disahkan dan berlaku efektif pada 1 September 1945.

​Situs Museum Nasional Proklamasi mencatat pesan Soekarno pada masa itu. “Sejak 1 September 1945 kita memekikan pekik ‘Merdeka’, perjuangkan terus pekik itu sebagai perjuangan jiwa yang Merdeka!”

​Inspirasi Lima Jari

​Dalam otobiografinya yang ditulis oleh jurnalis Amerika Serikat, Cindy Adams, Soekarno menjelaskan makna di balik lima jari yang terbuka. Buku berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia merekam kesaksian tersebut.

​Pada Bab 27 bertajuk ‘Revolusi Mulai Berkobar’, Soekarno mengaku terinspirasi dari Nabi Muhammad SAW. Sang nabi mengajarkan tradisi salam untuk mempersatukan umatnya di masa lalu.

​”Pada tanggal satu September aku menetapkan supaya setiap warga negara Republik memberi salam… dengan mengangkat tangan, kelima jari terbuka lebar – yang maksudnya lima sila,” demikian kutipan Soekarno dalam buku itu.

​Penulis biografi sejarah, mendiang Peter Kasenda, pernah mempertegas makna historis tersebut. Dalam rekaman video di akun media sosial @komunitasbambu, ia memperagakan salam dengan membuka lebar kelima jarinya.

​”Artinya apa? Artinya lima, Pancasila,” ujar Peter sembari menjelaskan simbolisasi dasar negara dalam salam kemerdekaan tersebut.

​Makna Mengepal Versi Megawati

​Sebelumnya, pemahaman berbeda disampaikan oleh Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Megawati Soekarnoputri. Ia menegaskan salam merdeka justru harus diiringi kepalan tangan.

​Pernyataan itu ia sampaikan saat sosialisasi buku teks pendidikan Pancasila di Jakarta Selatan, Senin (21/8/2023). Megawati menilai kepalan tangan memiliki makna persatuan yang mendalam.

​”…bapak saya bilang kenapa kita mesti mengatakan merdeka, merdeka tuh bukan begini (menunjukkan tangan terbuka), tapi begini (menunjukkan tangan mengepal),” ujar Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut.

​Selain itu, Megawati menjelaskan bahwa tangan mengepal bermakna menyatukan kelima sila. Salam kemerdekaan tersebut menjadi simbol bahwa Pancasila telah dijadikan satu kesatuan yang utuh.

​Menanggapi perbedaan narasi ini, Kushartono kembali mengingatkan pentingnya semboyan “Jas Merah” atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

​”Karena salam pekik merdeka tentu ada makna sejarahnya. Termasuk aturan tidak dengan telapak tangan mengepal tapi dengan lima jari seperti orang menghormat,” tuturnya.***

​Daftar Pustaka:

  • ​Adams, Cindy. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Bab 27: Revolusi Mulai Berkobar, hlm. 339).
  • Museum Nasional Proklamasi (Munasprok). Catatan Maklumat Pemerintah tertanggal 31 Agustus 1945 (Disahkan 1 September 1945).
  • Pernyataan Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri dalam Sosialisasi Buku Teks Utama Pendidikan Pancasila, Jakarta Selatan, 21 Agustus 2023.
  • Pernyataan Pengelola Rumah Masa Kecil Bung Karno/Ketua Harian Situs Ndalem Pojok Persada Soekarno Kediri, RM. Kushartono.
  • Video peragaan salam merdeka oleh sejarawan Peter Kasenda via akun Twitter @komunitasbambu.