Berbagai analis pertahanan global mencatat bahwa Iran kini merancang deretan rudalnya secara khusus untuk menembus dan melumpuhkan sistem anti-rudal canggih Israel, seperti Iron Dome, David’s Sling, maupun Arrow.

​Ancaman paling mengerikan datang dari Fattah-1 dan Fattah-2. Rudal balistik hipersonik pertama buatan Iran ini mampu melesat tajam dengan kecepatan Mach 13 hingga Mach 15, atau setara dengan 15.000 hingga 18.500 kilometer per jam.

​Berbeda dengan rudal balistik konvensional yang meluncur dengan lintasan melengkung sehingga radar mudah memprediksinya, Iran melengkapi generasi Fattah dengan kendaraan luncur hipersonik (Hypersonic Glide Vehicle / HGV).

Teknologi mutakhir ini memungkinkan hulu ledak bermanuver lincah di tengah penerbangan, sehingga efektif mengecoh dan menghindari rudal pencegat musuh.

​Selain senjata hipersonik, Iran turut mengerahkan rudal balistik berbahan bakar padat Kheibar Shekan. Rudal ini menawarkan presisi sangat tinggi dengan daya jangkau mencapai 1.450 kilometer.

Ada pula Khorramshahr-4 (Kheibar), salah satu senjata paling merusak di gudang senjata Iran. Rudal raksasa ini mampu menggendong hulu ledak seberat 1.500 kilogram menempuh jarak 2.000 kilometer—kapasitas yang sangat mumpuni untuk meluluhlantakkan infrastruktur vital di seluruh penjuru Israel.

​Dimensi Baru Perang Informasi dan Korban Jiwa

​Skala kehancuran dari senjata-senjata mematikan ini ternyata tidak hanya berdampak pada infrastruktur fisik. Galloway juga meragukan angka resmi korban tewas dari pihak Amerika Serikat. Mengingat banyaknya pangkalan CIA dan kedutaan besar AS yang menjadi target rudal, ia meyakini jumlah warga Amerika yang tewas mendekati angka seribu jiwa, jauh melampaui klaim Washington yang hanya menyebut empat orang.

​Di tengah ancaman blokade total pengiriman minyak dari Teluk Persia oleh Teheran, narasi kehancuran Tel Aviv ini membuka dimensi baru yang mengerikan. Publik global kini harus berhadapan dengan realitas asimetris; perang modern tidak lagi hanya dimenangkan lewat adu cepat rudal hipersonik di udara, tetapi juga melalui manipulasi dan kontrol ketat arus informasi di media massa. ***