
Pemikiran yang Mendahului Zaman
Rahmah El Yunusiyyah memandang pendidikan bukan hanya transmisi ilmu, tetapi proses pembentukan martabat manusia. Ia menolak pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum — sebuah gagasan yang baru populer puluhan tahun kemudian.
Bagi Rahmah, “Islam tidak membeda-bedakan ilmu; semua ilmu yang membawa manfaat adalah ibadah.” Ia juga menolak pandangan bahwa perempuan harus selalu di belakang laki-laki.
Baginya, kesetaraan tidak berarti melawan laki-laki, tapi berdiri sejajar untuk saling menegakkan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan.
Pandangan ini membuatnya dihormati oleh kalangan ulama sekaligus aktivis perempuan modern.
Warisan yang Hidup
Rahmah wafat pada 26 Februari 1969, di usia 68 tahun. Ia dimakamkan di kompleks Madrasah Diniyyah Putri Padang Panjang — di tanah tempat ia pertama kali mengajar.
Namun, gagasannya tak ikut dikubur bersama jasadnya.
Kini, Diniyyah Putri telah berusia lebih dari seabad dan tetap berdiri sebagai lembaga pendidikan perempuan modern dengan ribuan alumni di seluruh Indonesia.
Sekolah itu menggabungkan kurikulum umum dan agama, membuka program perguruan tinggi, dan menjadi inspirasi bagi sistem pendidikan Islam modern.
Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Rahmah El Yunusiyyah gelar Pahlawan Nasional, menegaskan bahwa perlawanan melalui pendidikan tak kalah heroik dari perang di medan senjata.
Jejak yang Terlupakan dari Sejarah Perempuan
Dalam sejarah nasional, nama Rahmah tidak sepopuler Kartini atau Dewi Sartika.
Padahal, ia mengawinkan dua arus besar: emansipasi perempuan dan pendidikan Islam — dua hal yang sering dianggap tak bisa bersatu.
Jika Kartini menulis surat untuk memperjuangkan kesetaraan, Rahmah mendirikan sekolah untuk mewujudkannya.
Ia bukan penulis kata-kata, tapi arsitek nyata dari ruang belajar perempuan Indonesia.
Warisan Rahmah juga memperlihatkan sisi lain dari Minangkabau: bahwa adat bundo kanduang bukan hanya simbol budaya, melainkan struktur sosial yang membuka ruang bagi kepemimpinan perempuan.
Namun Rahmah melangkah lebih jauh: ia menempatkan perempuan sebagai pendidik bangsa, bukan hanya penjaga rumah tangga.





2 Komentar