Guru Besar UIN Jakarta menyoroti terbongkarnya markas judol 320 WNA di Jakarta sebagai cerminan rapuhnya mental dan ekonomi masyarakat.


KOSONGSATU. ID – ​Terbongkarnya markas judi online (judol) berskala internasional di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta, yang melibatkan 320 Warga Negara Asing (WNA) memantik keprihatinan serius dari kalangan akademisi.

Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, Prof Muhamammad Maksum, menyoroti fenomena ini bukan sekadar pelanggaran siber biasa, melainkan cerminan dari rapuhnya ketahanan mental dan ekonomi masyarakat saat ini.

​Maksum menilai wabah judol telah menjelma menjadi tantangan besar yang mengakar pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari penegakan hukum hingga keamanan siber.

​Bahaya Mental Instan dan Pentingnya Edukasi Agama

​Satu hal yang paling disoroti oleh Prof Maksum adalah pergeseran pola pikir di tengah masyarakat. Ia tidak memungkiri bahwa saat ini tumbuh subur mentalitas ingin cepat kaya tanpa bersedia memeras keringat.

​”Untuk merubah ini, kita perlu penanaman etos kerja dan semangat juang semenjak kecil,” tegas Maksum, Selasa (12/5/2026).

​Menurutnya, langkah preventif harus segera diambil sebelum sikap hedonistik ini semakin merajalela. Ajaran agama memegang peranan krusial dan bisa pemerintah jadikan sebagai materi internalisasi utama untuk membentengi masyarakat dari godaan kekayaan instan yang semu.

​Kemiskinan Sebagai Celah Utama Kejahatan Siber

​Selain persoalan mental, Prof Maksum melihat faktor ekonomi sebagai pemicu utama mengapa judol laris manis di Indonesia. Keterdesakan kebutuhan hidup dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan sering kali mendorong masyarakat mengambil jalan pintas.

Mereka menjadikan judol sebagai solusi instan untuk mengatasi masalah finansial, yang pada akhirnya justru menjebak mereka dalam lingkaran kecanduan.

​”Karena itu, penciptaan lapangan pekerjaan menjadi sebuah keniscayaan. Pemerataan kekayaan dan distribusi pendapatan menjadi upaya mutlak untuk mengentaskan kemiskinan,” jelasnya. Jika kesejahteraan masyarakat meningkat, otomatis celah bagi sindikat judol untuk mencari korban akan semakin tertutup.

​Lemahnya Deteksi Dini dan Celah Infrastruktur

​Menghadapi kecanggihan sindikat internasional, Prof Maksum mendorong pemerintah untuk meningkatkan kemampuan teknologi demi mendeteksi penyalahgunaan sistem informasi sejak dini. Meski ia mengapresiasi langkah tegas kepolisian dalam penangkapan ratusan WNA tersebut, ia mengingatkan bahwa jaringan judol lain kemungkinan masih banyak beroperasi di luar sana.