Di hadapan ribuan warga Nganjuk, Prabowo melontarkan kritik keras: banyak pemimpin lantang soal NKRI, tapi berpaling saat berkuasa.
KOSONGSATU.ID — Presiden Prabowo Subianto menuding sejumlah elite politik tidak benar-benar berpihak kepada rakyat meski kerap mengusung nama NKRI sebagai tameng.
Pernyataan itu meluncur dalam sambutan peresmian Museum Ibu Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026) — sebuah museum yang didedikasikan untuk buruh perempuan yang tewas dibunuh setelah memperjuangkan hak-hak pekerja pada 1993.
“Ini banyak unsur pimpinan teriak-teriak NKRI tapi nggak jelas. Begitu punya kekuasaan tidak berpihak kepada bangsa sendiri, tidak berpihak kepada rakyat Indonesia,” tegas Prabowo.
Prabowo tidak menyebut nama atau kelompok tertentu. Namun konteks pernyataan itu sarat makna — disampaikan di depan monumen perjuangan buruh, di tengah tekanan ekonomi yang menghimpit kelas bawah.
Loyalitas kepada Negara, Bukan Kekuasaan
Prabowo menegaskan bahwa rakyat tak perlu diragukan kesetiaannya — justru kalangan pemimpin lah yang harus diuji.
“Pimpinan yang harus, harus setia kepada NKRI. Bukan rakyat, rakyat pasti setia, nggak ada pilihan,” ujarnya.
Ia menyerukan agar setiap pejabat dan pemimpin menempatkan kepentingan bangsa di atas segalanya — termasuk kepentingan pribadi dan kelompok.
Disampaikan saat Rupiah di Titik Terendah
Pidato Prabowo disampaikan sehari setelah rupiah menyentuh Rp17.613 per USD — rekor terlemah sepanjang sejarah, dengan tren pelemahan tujuh pekan berturut-turut.
Di tengah situasi itu, Prabowo justru memilih panggung peringatan buruh untuk mengingatkan elite bahwa amanah kekuasaan bukan untuk diri sendiri.
Pilihan lokasi bukan tanpa pesan: Marsinah adalah simbol rakyat kecil yang dikorbankan oleh mereka yang berkuasa. Prabowo menutup sambutannya dengan seruan agar pemimpin tak mengulang dosa sejarah yang sama.***




Tinggalkan Balasan