Namun, pengamat ekonomi mengingatkan adanya tantangan jangka panjang. Meskipun tarif 19% memberikan napas lega bagi industri tekstil dan alas kaki nasional, Indonesia masih harus bersaing ketat dengan negara lain yang memiliki struktur biaya lebih efisien. Penghapusan tarif impor RI sebesar 99% untuk produk AS juga diprediksi akan membanjiri pasar domestik dengan produk manufaktur dan pangan dari Negeri Paman Sam tersebut.

Kunjungan Presiden Prabowo ke Washington pekan depan tidak hanya sekadar seremonial ekonomi, melainkan langkah krusial dalam menyeimbangkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global di bawah bayang-bayang kebijakan tarif timbal balik yang ketat.***