Pernyataan ini dinilai sebagai pengakuan langka yang membuka tabir kebijakan luar negeri AS selama ini terselubung retorika “demokrasi dan kebebasan”.
Seruan ke Sekutu: “Rebut Sendiri Minyak di Hormuz”
Dalam pidatonya, Trump juga mengecam negara-negara yang tidak mendukung penuh perang. Ia memerintahkan negara-negara yang bergantung pada minyak dari Selat Hormuz untuk “mengambil sendiri” minyak tersebut.
Trump menyatakan bahwa AS tidak lagi membutuhkan minyak Timur Tengah karena sudah mandiri berkat kebijakan *drill, baby, drill*-nya. Ia menyebut produksi AS kini melebihi gabungan Arab Saudi dan Rusia.
“Pergilah ke selat itu dan rebut saja, lindungi, gunakan untuk diri kalian sendiri. Bagian tersulit sudah dilakukan, jadi ini akan mudah,” ujar Trump.
Dampak Pidato: Harga Minyak Melonjak, Pasar Saham Anjlok
Alih-alih menenangkan pasar, pidato Trump justru memicu gejolak ekonomi. Harga minyak mentah Brent naik lebih dari 4 persen hingga mencapai USD105,7 per barel pada perdagangan Kamis (2/4/2026).
Analis dari Pepperstone Group, Dilin Wu, menyebut pidato Trump “sangat mengecewakan” karena tidak memberikan sinyal de-eskalasi. AT Global Markets memperingatkan bahwa “pasar mungkin masih akan jatuh lebih dalam” karena pernyataan perang yang berkepanjangan.
Nick Twidale, Chief Market Analyst AT Global Markets, mengatakan bahwa investor tidak percaya pada klaim kemenangan Trump. Ancaman lanjutan di minggu-minggu mendatang justru menunjukkan perang belum berakhir.
Respons Iran dan Dunia
Hanya beberapa menit setelah pidato Trump, Iran meluncurkan rudal balasan ke Israel utara. Fakta ini membuktikan bahwa klaim “hancurnya kemampuan rudal Iran” tidak sepenuhnya akurat.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut tawaran gencatan senjata AS sebagai “maksimalis dan tidak rasional”. Mereka menegaskan tidak akan ada negosiasi langsung dengan Washington.
Sementara itu, di dalam negeri AS, lebih dari 800 juta orang dilaporkan turun ke jalan dalam protes nasional “No Kings” yang menentang perang dan kebijakan Trump.**.*




0 Komentar