Tujuannya bukan untuk membuang tradisi, melainkan melakukan dekonstruksi. Kita tetap bisa menjaga etika “jangan duduk di depan pintu” dengan alasan sopan santun dan kelancaran sirkulasi jalan, bukan sekadar takut jauh jodoh.

Pamali adalah bukti bahwa nenek moyang kita adalah ahli ekologi, psikologi sosial, dan perancang sistem budaya yang jenius. Mereka memahami bahwa tanpa rasa takut terhadap “sesuatu”, manusia cenderung merusak alam dan tatanan sosial.

Hari ini, saat kita memiliki sains tapi tetap merusak hutan dan mencemari sungai, mungkin yang kita butuhkan adalah “Pamali Versi Modern”. Sebuah cara baru untuk menyadarkan kita bahwa jika kita merusak bumi, kita tidak akan kualat secara mistis—tapi kualat secara nyata melalui bencana dan kerusakan peradaban itu sendiri.

Karena terkadang, apa yang kita anggap kuno justru menyimpan kecerdasan yang belum mampu kita pahami sepenuhnya. ***


Daftar Referensi

  • Ahimsa-Putra, H. S. (2016). Mitos dan Logika: Dekonstruksi Pamali dalam Masyarakat Jawa. Jurnal Antropologi Indonesia.
  • Aquinas, T. (2010). Summa Theologica: Akal dan Iman. Bandung: Nusa Media.
  • Popper, K. (2002). Logika Penemuan Ilmiah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Selvya, S. (2024). Perancangan Film Pendek Neukteuk Kuku Sebagai Upaya Pelestarian Budaya Sunda Tentang Pamali. Doctoral dissertation, Nusa Putra University.