Ketahanan pangan kini tak cukup hanya mengandalkan kuantitas. Kualitas dan keamanan juga jadi kunci. Di sinilah peran teknologi nuklir mulai dilirik serius. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penerapan energi nuklir untuk mendukung sektor pangan nasional.
KOSONGSATU.ID—Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, menegaskan bahwa teknologi bukan lagi pilihan pelengkap, melainkan bagian utama dari strategi ketahanan pangan.
“Kita perlu teknologi yang bisa menjamin pasokan pangan tetap terjaga dari sisi kualitas maupun kuantitas,” ujarnya, dikutip Ahad (29/6).
Salah satu tantangan besar adalah food loss — kehilangan pangan sebelum produk sampai ke konsumen. Teknologi nuklir, menurut Syaiful, mampu menekan angka kehilangan ini secara signifikan.
Indonesia sendiri telah memiliki infrastruktur dan keahlian yang memadai untuk pengembangan teknologi ini. Pusatnya berada di Kawasan Sains dan Teknologi G.A. Siwabessy, Jakarta. Di sana, lebih dari 500 peneliti tersebar di tujuh pusat riset, mulai dari teknologi reaktor, radiasi, hingga radiofarmaka.
Salah satu aplikasi yang dikembangkan adalah teknologi iradiasi. Irawan Sugoro, Kepala Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi BRIN, menjelaskan bahwa iradiasi mampu memperpanjang umur simpan dan menjaga kualitas bahan pangan tanpa mengubah rasa atau nilai gizinya.
Teknologi ini juga banyak digunakan di sektor non-pangan, seperti pengujian tanpa kerusakan (non-destructive testing) dan sterilisasi alat kesehatan.
Namun, penerimaan masyarakat masih jadi tantangan. Kata “radiasi” sering kali memicu kekhawatiran meski aplikasinya terbukti aman dan sudah digunakan luas di negara maju.
Murni Indarwatmi, peneliti di PRTPR BRIN, menambahkan bahwa iradiasi memiliki keunggulan besar dalam memenuhi standar ekspor, terutama untuk produk hortikultura seperti mangga dan manggis. Teknologi ini memungkinkan penanganan hama tanpa perlakuan fisik yang mahal atau rumit, seperti pada lalat buah atau kutu putih.
Keunggulan lain dari iradiasi adalah kemampuannya untuk mensterilkan berbagai produk, mulai dari bahan herbal, daging olahan, hingga bumbu kering seperti bubuk cabai. Prosesnya bersih, efisien, dan bisa dilakukan bahkan setelah produk dikemas.
Ke depan, BRIN terus mendorong eksplorasi lebih luas terhadap teknologi nuklir untuk pangan, dengan tetap menjaga prinsip keselamatan dan keberlanjutan. Kolaborasi lintas sektor—dengan akademisi, industri, hingga pemerintah daerah—dianggap krusial agar inovasi ini bisa langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.***




Tinggalkan Balasan