Ketika medan tempur berpindah dari garis batas wilayah ke ruang benak manusia, negara memanggil seorang musikus–pemikir untuk membaca arah perang yang tak lagi berbunyi peluru.


KOSONGSATU.ID—Sabrang Mowo Damar Panuluh—publik mengenalnya sebagai Noe Letto—resmi bergabung dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia sebagai tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional. Ia dilantik untuk memperkuat kajian strategis dan merumuskan rekomendasi kebijakan pertahanan nasional.

Penugasan ini menandai satu hal: pertahanan negara tak lagi cukup dibaca dari peta dan alutsista, melainkan dari ketahanan nalar, bahasa, dan identitas.

Perang yang Bergeser ke Benak

Noe berangkat dari satu diagnosis: perang telah bergeser ke ruang siber dan kognisi. Musuh tidak selalu datang dengan senjata, tetapi dengan disrupsi informasi—mengaburkan makna, memecah kohesi sosial, dan merusak identitas bangsa. Inilah cognitive warfare, medan yang senyap namun menggerogoti.

Dalam berbagai forum Maiyah, ia kerap mengingatkan bahwa setiap perang memiliki “titik koordinat”—titik berat tarikan kekuatan. Sejarah mencatatnya beragam: kekuasaan, teritorial, ekonomi, hingga pengaruh budaya. Pada tataran pasukan, Noe mengibaratkan struktur klasik: infanteri, artileri, kavaleri. Masing-masing bergerak di koordinatnya sendiri, dengan fungsi dan strategi berbeda. Tak ada pasukan yang lebih “mulia” dari yang lain; semuanya satu kesatuan.

Di sinilah kritiknya pada cara pandang publik hari ini. Tidak semua orang harus “turun ke medan” yang sama. Ada yang menjaga markas, ada yang memastikan logistik dan ketahanan pangan. Strategi bukan perkara serentak maju, melainkan kesadaran posisi.

“Rakaat Panjang” dan Perebutan Istilah

Noe menyebut Indonesia punya strategi “rakaat panjang”—kerja senyap, berlapis, dan berjangka panjang. Namun ia mengingatkan: musuh pun memiliki “rakaat panjang”-nya sendiri, dengan dimensi dan nuansa berbeda. Karena itu, salah satu pertempuran paling menentukan adalah perebutan istilah.

“Musuh sudah memakai kata pembangunan, kita masih berpikir demonstrasi,” ujar Noe suatu ketika.

Penjajahan, katanya, kerap berganti baju bahasa. Mekanismenya sama, istilahnya yang dipoles. Perang hari ini tidak linier—ia menyentuh ekonomi, hukum, sosial, dan budaya sekaligus. Menghadapi perang baru dengan cara lama hanya akan membuat kita selalu tertinggal.

Memilih Medan, Bukan Terseret

Noe mengajak belajar dari Perang Badar: kemenangan diraih bukan semata karena jumlah, tetapi karena kemampuan memilih medan.

Nabi Muhammad SAW memilih ruang tempur yang dipahami, memanfaatkan titik-titik strategis, dan menarik musuh masuk ke wilayah yang menguntungkan. Prinsipnya sederhana namun keras: jika tak memahami medan sendiri, jangan bermimpi menang.

Pesan itu relevan di zaman kini. Menentukan medan—narasi apa yang diperjuangkan, bahasa apa yang dipakai, nilai apa yang dijaga—adalah prasyarat kemenangan kognitif.

Penjajahan Modern: Dari Politik Etis ke Kebijakan

Penjajahan klasik datang dengan todongan senjata. Lalu ia berevolusi menjadi cara yang lebih hemat biaya: perjanjian, politik etis, pengaruh pada elite. Hari ini, kata Noe, pola itu masih terasa.

Di sekitar lokasi eksploitasi sumber daya, kesejahteraan warga kerap tak bergerak signifikan. Penguasaan berlangsung lewat kendali kebijakan—eksekutif, yudikatif, legislatif—hingga undang-undang yang lolos justru merugikan kepentingan luas.

Perang tetap tentang pemindahan kekayaan. Hanya caranya yang berubah.