Kebijaksanaan dimulai saat kita berani meragukan asumsi sendiri dan tidak tergesa-gesa menelan isu yang berseliweran di media sosial.
KOSONGSATU.ID — Hari-hari ini, isi kepala kita rasanya kotor luar biasa. Apa saja masuk: kiriman grup pesan singkat, potongan video pendek yang dipotong dari konteksnya, rumor politik, hingga narasi provokatif di media sosial.
Setiap hari kita tidak hanya diserbu ribuan informasi, tetapi juga terjebak dalam aktivitas memanaskan dan dipanaskan oleh berita. Celakanya, kebiasaan berpolemik dan asal unggah ini lama-kelamaan bisa terinternalisasi menjadi watak dan karakter hidup kita.
Di era paska-kebenaran ini, batas antara fakta dan kebohongan menjadi semakin kabur. Pertanyaannya: Mengapa kita begitu mudah tersulut? Mengapa fakta mendasar sering kali kalah oleh narasi yang mengusung prinsip asal menang?
Untuk menjawabnya, mari kita menengok dua kacamata filsafat: retorika Kaum Sofis dari Yunani Kuno dan Skeptisisme Metodis karya René Descartes. Ribuan tahun lalu di Yunani, hadir kelompok pemikir yang disebut Kaum Sofis. Ciri utama ajaran mereka adalah bahwa tujuan berargumen bukan untuk mencari kebenaran, melainkan mencari kemenangan.
Bagi Kaum Sofis, kebenaran itu relatif dan tergantung siapa yang menang berdebat. Di media sosial hari ini, gaya Sofisme ini hidup kembali secara masif melalui dua teknik utama:
- Trik Eristic (Seni Berargumen Asal Menang): Seseorang tidak peduli apakah isi unggahannya benar atau bohong; yang penting narasinya tular, mendapat penyuka, atau berhasil menjatuhkan lawan.
- Teknik Antilogic: Memilih dan memotong fakta sesuai kepentingan. Jika tidak menyukai suatu tokoh, kita hanya akan menyebarkan fakta buruknya. Sebaliknya, jika mengidolakannya, kita menutup mata dari kesalahannya.
Terjebak Basa-Basi Digital dan Ilustrasi Keranjang Apel Descartes
Inilah mengapa di media sosial fakta sering kalah. Kita sering kali terpukau oleh retorika yang pandai membuai perasaan, meskipun isinya kosong dari kebenaran. Salah satu poin menariknya adalah pergeseran makna basa-basi di Indonesia.
Dulu, basa-basi dilakukan untuk menghargai orang lain. Sekarang, bentuk basa-basi baru di grup media sosial adalah: daripada grup sepi, lebih baik membuat isu atau melempar hoaks agar suasana ramai. Perilaku pura-pura tidak tahu atau bertindak bodoh demi pamer ini sangat berbahaya.
Descartes pernah berpesan bahwa masyarakat yang terbiasa bersenang-senang dengan pura-pura bodoh, lama-kelamaan akan kebanjiran orang yang benar-benar bodoh. Lantas, bagaimana caranya agar otak kita tidak terus-menerus dicuci oleh informasi yang menyesatkan?
René Descartes menawarkan sebuah rumus: Dubium sapientiae initium—meragukan adalah awal dari kebijaksanaan. Descartes memberikan ilustrasi yang sangat terkenal tentang Keranjang Apel untuk menjelaskan metode berpikir ini.
Bayangkan pikiranmu adalah sebuah keranjang penuh berisi apel. Kamu curiga ada beberapa apel yang busuk di dalamnya, dan kamu takut kebusukan itu menular ke apel yang masih segar. Apa yang harus kamu lakukan? Kamu tidak bisa sekadar mengambil satu-dua apel dari atas.
Kamu harus menumpahkan seluruh isi keranjang itu, memeriksa setiap apel satu per satu, lalu hanya memasukkan kembali apel yang benar-benar bagus dan pasti tidak busuk. Di era paska-kebenaran pada Juli 2026 ini, menumpahkan keranjang apel berarti menangguhkan kepercayaan, menguji asumsi sendiri, dan menganalisis variabel informasi secara rinci.

Manusia, menurut Descartes, adalah kombinasi antara fisik dan pikiran. Tubuh kita seperti kendaraan, sedangkan akal adalah sopirnya. Agar kendaraan tidak menabrak di media sosial, hindari enam nafsu yang membuat cara menyetir akal menjadi kacau: terlalu suka, terlalu benci, terlalu kagum, terlalu bergairah, terlalu semangat, serta terlalu gembira atau sedih.
Ketika emosi berada pada level serba terlalu, akal tidak akan berfungsi dengan jernih. Maka, mari mulai mencuci otak kita secara mandiri—bukan disetir oleh algoritma dan retorika orang lain, melainkan disaring dengan ketajaman bernalar. Punya akal sehat saja tidak cukup, yang terpenting adalah menggunakannya dengan benar.***





Tinggalkan Balasan