Peringatan kemerdekaan di rumah masa kecil Bung Karno berlangsung haru lewat reka ulang pembacaan naskah pidato proklamasi tanpa baris-berbaris formal.

KOSONGSATU.ID – Ketua Harian Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok Kediri, R.M. Kushartono, mengatakan peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia ke-81 pada Senin, 17 Agustus 2026, digelar dengan konsep semi-teatrikal. Format tanpa baris-berbaris ini sengaja dipilih guna mencerminkan situasi asli peristiwa 1945 yang penuh keterbatasan.

​Ratusan warga dari berbagai kalangan berpakaian ala 1940-an memadati lokasi. Mereka berbaur untuk mengikuti reka ulang pembacaan naskah sejarah sebelum dan sesudah teks Proklamasi dikumandangkan.

​”Tujuan kami bukan mengubah sejarah, tetapi menghidupkan kembali ingatan,” kata Kushartono di Kediri, Senin.

​Ia berharap generasi masa kini tidak sekadar menghafal tanggal dan isi naskah. Lebih dari itu, masyarakat diajak memahami nilai perjuangan dan pengorbanan para pendiri bangsa di balik kemerdekaan.

​Pidato Utuh Bung Karno

​Selain itu, Inspektur Upacara Hendro Widjanarko menyebut panitia sengaja menghadirkan pidato pengantar Bung Karno yang jarang terdengar di panggung seremonial. “Selama ini masyarakat lebih mengenal Proklamasi hanya dari teks singkatnya,” ujar Hendro.

​Ia menjelaskan bahwa suasana menjelang dan setelah pembacaan proklamasi sebenarnya diliputi ketegangan, harapan, serta doa. Reka ulang ini diharapkan mampu menyampaikan beratnya jalan panjang menuju kemerdekaan.

​Pendekatan historis yang sederhana ini menyentuh emosi peserta di halaman Ndalem Pojok. Indah Winarti, warga setempat yang hadir, mengaku terharu melihat reka ulang tersebut.

​”Saya sampai menangis, hati saya bergetar. Rasanya seperti dilempar kembali ke masa lalu,” ucap Indah.

​Peringatan Hari Konstitusi

​Ihwal rangkaian acara, perayaan di situs bersejarah ini berlanjut hingga Selasa, 18 Agustus 2026. Panitia menggelar Syukuran Hari Konstitusi dan peringatan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

​Agenda tersebut meliputi kirab budaya Nusantara, doa lintas agama, santunan warga miskin, sarasehan, hingga tradisi selamatan. Ketua Panitia Tasyakkuran, R.M. Suhardono, menilai tanggal 18 Agustus memiliki kedudukan sejarah yang krusial.

​”Jika 17 Agustus adalah momen pengakuan kemerdekaan, maka 18 Agustus adalah hari disahkannya UUD 1945 serta pengangkatan Presiden dan Wakil Presiden pertama oleh PPKI,” kata Suhardono.***