​Rutinitas meneliti dan menulis itu membuahkan 67 naskah kitab rujukan syariat hanya dalam rentang waktu lima tahun. Fokus utamanya adalah menghidupkan kembali manuskrip klasik, termasuk karya Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi.

​Menyelamatkan warisan pemikiran para pendahulu ini menjadi tanggung jawab moral yang besar bagi dirinya. “Menghidupkan naskah klasik itu fardu kifayah. Kalau tidak kita yang menjaga, bisa hilang selamanya,” ujarnya.

​Menolak Kemasyhuran

​Ayah empat anak ini akhirnya memilih pulang kampung ke Kudus pada 2018 dan kembali berbaur layaknya warga biasa. Ia rela meninggalkan gemerlap penghargaan dan menolak tawaran mengajar agar fokus menelitinya tidak terganggu.

​Kemasyhuran dan materi bukanlah tujuan akhirnya dalam melahirkan ratusan literatur berharga tersebut. Ia memosisikan seluruh aktivitas penulisan kitab murni sebagai bentuk komunikasi spiritual dengan para cendekiawan masa lampau.

​”Saat menulis, rasanya seperti berdialog dengan para ulama terdahulu. Itu tidak bisa diukur dengan materi,” kata Supriyanto.***