Ekskavasi di Trowulan menyingkap kecanggihan tata kota, permukiman elite, hingga teknologi konstruksi bata gosok dan umpak penahan gempa warisan leluhur Nusantara.
KOSONGSATU.ID – Kepala Sub Bagian Koleksi Museum Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XI Jatim Tommy Raditya Dahana menyatakan, peradaban kuno abad ke-13 menguasai teknologi bangunan canggih di Trowulan. Temuan ini merangkum sistem tata air hingga arsitektur hunian.
”Di Kitab Negarakertagama disebutkan, dalam kompleks bangunan yang dihuni para paduka batara memiliki tulang berupa tiang,” kata Tommy. Struktur ini sejak awal dirancang agar tangguh menghadapi kondisi iklim dan bentang alam tropis.
Permukiman Elit di Situs Grogol
Kawasan Situs Grogol di Trowulan teridentifikasi sebagai area permukiman kelompok elite atau aristokrat kerajaan. Indikator utama tersebut terlihat dari temuan artefak keramik asing berkualitas tinggi yang diimpor dari Tiongkok, Vietnam, serta Thailand.
Masyarakat di sana hidup makmur dengan jaringan perniagaan yang luas. Hal ini dibuktikan dengan temuan koin perunggu Tiongkok era Dinasti Song, serta ragam hias terakota yang memperindah struktur bangunan permanen miliknya.
Kearifan Arsitektur dan Teknologi Konstruksi

Bangunan Majapahit secara vertikal selalu terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu kaki, badan, dan kepala. Konsep rancang bangun ini mengaplikasikan teknologi landasan umpak berbahan batu andesit sebagai penyangga pilar utama rumah.
Pemerhati tinggalan budaya Majapahit Anam Anis menjelaskan, masyarakat saat itu mendirikan tembok yang sangat presisi tanpa semen modern. “Jadi bata-bata itu digosokkan satu sama lain dengan diberi sedikit air,” ujar Anis menerangkan prosesnya.
Serbuk halus hasil gesekan bata bereaksi menjadi perekat alami yang solid. Sebelumnya, sistem landasan umpak juga dirancang untuk memecah getaran gempa bumi sekaligus melindungi pilar kayu dari pelapukan tanah lembap.
Simbolisme dan Ornamen Suci
Ihwal seni dekoratif, arsitektur era ini memuat ragam hias yang sarat makna spiritual religius. Simbol Surya Majapahit yang menyatukan delapan arah mata angin selalu ditempatkan pada area sakral di bagian atas struktur bangunan.
Terdapat pula ornamen padma yang bermakna kemurnian serta ukiran ukel melengkung pada jurai atap. Selain itu, relief berbentuk medali dengan motif flora geometris lazim menempel menghiasi dinding kompleks hunian kalangan atas.
Sistem Pengelolaan Air (Hidrologi)
Peradaban Nusantara ini merancang manajemen tata kelola air yang sangat terukur. Ekskavasi di Situs Petirtaan Sumberbeji membuktikan keahlian ahli konstruksi kuno membangun kolam pemandian suci dengan jaringan hidrologi kompleks.
Infrastruktur sumber daya air tersebut memegang fungsi ganda bagi kelangsungan peradaban. Aliran air dimanfaatkan sebagai sarana ritual spiritual sekaligus mengairi lahan pertanian untuk menopang ketahanan pangan ibu kota kerajaan.
Pelestarian dan Standarisasi Modern
Kini, upaya merawat warisan budaya tersebut menghadapi tekanan berat dari masifnya ekspansi perumahan. Merespons situasi ini, Pemerintah Kabupaten Mojokerto mulai mengadopsi langgam arsitektur Majapahit untuk gedung pemerintahan.
Inisiatif ini menggunakan material lokal berkelanjutan guna membangkitkan identitas kultural daerah. “Kualitas tanah liat zaman dulu jauh lebih bagus dan proses pembakarannya matang sempurna,” kata Anis menanggapi ketahanan bata kuno tersebut.***
Daftar Pustaka:
- Laporan Arkeologi Situs Grogol, Trowulan (Keramik Kuno, Artefak Terakota, Koin Kepeng).
- Kajian Konstruksi Majapahit (Teknologi Umpak Batu Andesit dan Bata Gosok).
- Filosofi Arsitektur Tri Loka dan Surya Majapahit.
- Jurnal Hidrologi Kuno (Situs Petirtaan Sumberbeji).
- Arsip Pemberitaan Media Cetak/Daring Daerah Mojokerto (Wawancara BPK Jatim & Pemerhati Budaya, 2023-2024).





Tinggalkan Balasan