Pabrik penggilingan gandum berskala besar mulai beroperasi pada 1971. Ketersediaan tepung yang stabil kemudian menopang pertumbuhan industri mi, roti, biskuit, serta makanan ringan.
Dengan demikian, dominasi terigu bukan semata-mata perubahan selera. Infrastruktur industri, kebijakan impor, distribusi, dan produksi pangan massal ikut membentuk kebiasaan konsumsi baru.
Impor Mencapai 10 Juta Ton
Badan Pusat Statistik mencatat Indonesia mengimpor sekitar 10,08 juta ton biji gandum dan meslin sepanjang 2024. Jumlah itu turun sekitar 10,2 persen dibandingkan 2023 yang mencapai 11,23 juta ton, tetapi tetap menunjukkan besarnya kebutuhan domestik.
Artinya, setiap roti, mi, biskuit, atau produk lain berbasis terigu juga membawa ketergantungan terhadap pasokan internasional. Gangguan produksi, perang, biaya angkutan, dan perubahan nilai tukar dapat memengaruhi harga bahan bakunya di Indonesia.
Terigu disukai industri karena mengandung gluten, yakni jaringan protein yang membuat adonan lentur, mengembang, dan mampu mempertahankan bentuk. Karakter ini sulit digantikan sepenuhnya oleh tepung singkong, sagu, atau umbi tanpa penyesuaian resep dan teknologi.
Namun, tidak semua produk membutuhkan terigu murni. Penelitian Balai Penelitian Tanaman Palma menunjukkan pati sagu dapat menggantikan hingga 30 persen terigu dalam formulasi roti manis dan masih dapat diterima oleh panelis.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pangan lokal tidak harus diposisikan sebagai pengganti total. Substitusi sebagian saja sudah dapat mengurangi kebutuhan terigu sekaligus membuka pasar bagi hasil pertanian dalam negeri.
Diversifikasi, Bukan Romantisasi Masa Lalu
Kehidupan masyarakat sebelum terigu juga tidak otomatis lebih sehat. Mutu pola makan tetap ditentukan oleh jumlah energi, kecukupan protein, vitamin, mineral, keamanan pangan, serta keberagaman makanan—bukan sekadar ada atau tidaknya gandum.
Pelajaran yang relevan justru terletak pada keragaman sumber pangan. Indonesia tidak perlu meninggalkan terigu, tetapi dapat mengurangi risiko apabila tidak bergantung berlebihan pada satu komoditas impor.




Tinggalkan Balasan